Setelah berjuang melawan penyakitnya selama 24 hari di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina), akhirnya Pak Harto harus pergi untuk selamanya. Banyak kenangan semasa hidup beliau. Mungkin aku bukan saksi hidup, dan aku juga tidak memiliki kenangan pribadi bersama beliau. Tapi yang pasti, semasa kecilku penuh dengan doktrin yang telah melekat dalam setiap langkahku. Semuanya bersumber dari beliau.

Setiap perayaan imlek, kota selalu sepi sunyi, tak semeriah imlek di tahun-tahun belakangan ini. Hanya di beberapa vihara terlihat ada acara kecil untuk merayakan Tahun Baru Cina itu. Hmmm, tarian barongsai? Jangan harap deh… Cuma bisa liat di foto aja *kecuali mau nonton di vihara*.

Selain itu, semua keluargaku juga berduyung-duyung ke kantor *entah mana* untuk mengurus SKBRI dan mengganti nama. Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk mencari nama yang bagus, makanya ga heran kalo banyak orang-orang tua keturunan Tionghoa yang nama Indonesianya terlihat seperti nama-nama orang Jawa, misalnya Soetanto, Soetarno, Soejanto, dsb. Beda kan ama nama anak-anak keturunan Tionghoa jaman sekarang?

Begitu banyak kenangan pahit yang mereka alami, pahit dan getirnya hidup dibawah pemerintahan Pak Harto. Hingga akhirnya mereka terhimpit pada 2 pilihan, berduka, atau berontak? Tidak hanya kami wrga keturunan Tionghoa, tapi seluruh rakyat Indonesia dihadapkan oleh 2 pilihan itu. Ada yang memilih untuk berduka, ada juga yang memilih untuk berontak mengharapkan keadilan.

Ya, memang manusia tidak luput dari kesalahan. Sekalipun hati mereka telah memaafkan, namun kesalahan tetaplah harus dibayar. Bukannya negara kita adalah negara hukum?

Apapun yang terjadi di masa lalu, aku tetap mengucapkan selamat jalan kepada Pak Harto, semoga beliau mendapatkan tempat yang layak di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan….