Ga perlu heran lagi klo d Indonesia banyak sarjana IT. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya perguruan tinggi yang menawarkan jurusan IT. Tentu saja perkembangan IT menjadi alasan dan tuntutan utama dalam dunia pendidikan. Tapi apakah kita menyadari bahwa tidak sedikit pula para programmer yang tidak memiliki latar belakang dunia pendidikan IT. Lantas, dimanakah perbedaan mereka?
Jelas, perbedaan adalah terletak pada gelar yang mereka miliki. Seorang programmer yang memiliki latar belakang IT tentulah memiliki gelar Sarjana Komputer. Sedangkan para programmer otodidak tidak memiliki gelar tersebut. Selain itu, perbedaan terletak pada pengetahuan dasar. Seorang programmer sarjana tentu memiliki dasar algoritma dan teori yang baik. Sedangkan programmer otodidak tidak mempelajari teori, melainkan praktek.
Jika kita perhatikan, tidak sedikit pula programmer sarjana yang kalah dengan programmer otodidak. Misalnya, seorang programmer sarjana yang memahami konsep dan teori namun lemah dalam implementasinya. Sedangkan programmer otodidak tidak memahami konsep dan teorinya, namun mereka lebih memahami implementasinya. Lalu siapakah yang patut disalahkan atas kelemahan - kelemahan para programmer yang sarjana? Instistusi pendidikan atau sang programmer itu sendiri? Apabila perusahaan kita berada pada posisi yang harus memilih antara programmer otodidak dan programmer sarjana, manakah yang lebih baik dipilih mengingat masing - masing programmer memiliki kelemahan dan kelebihan yang berbeda satu sama lain.
(Arsip pribadi 14/05/2007)







kaloo sayah bukan progammer otodidak dan sarjana. tapi saya Blog mania :P
orang jd jago itu dr pengalaman…
walopun dia programmer sarjana, tetep harus pernah punya pengalaman coding
pengalaman adalah guru yg baik
guru yg terbaik adalah guru yang berpengalaman
nah lo :D:D
@angsa: brarti beruntung dong aku punya pengalaman dikasi ilmu php ama dosen web ku? *rofl*
no comment
Mnrut hasil penelitian saya.Permasalahannya karena programmer sarjana tidak pnya waktu utk implementasi…palagi klo sarjana itu aktif di beberapa organisasi.blm ge dia hrs blajar mata kuliah yg laen…di+ ge dia hrs krja smpingan utk biayain kosnya klo dia ngekos..n msih byk ge mslh kompleks bagi programmer sarjana…tapi,programmer otodidak tidak terikat dgn wktu..dia bisa bljr kpnpun dia mau..so,dia tdk tertekan dgn ujian,biaya,dosen yg killer,organisasi dll…jdi dia bsa fokus dgn yg dia pljri saja
Ini cuma pendapat saya aja loh
. Saya juga programmer otodidak dan latar belakang pendidikan formal saya adalah sains (biologi). Karena saya kebetulan punya temen yang jago ngoprek komputer, saya jadi ketularan. Setelah bertahun2 bergelut dengan kode, saya mulai merasakan ada “sesuatu” yang kurang jika hanya bisa coding. Setelah itu saya mencoba membaca-baca silabus mahasiswa teknik informatika, dan saya menemukan “sesuatu” itu.
Apakah “sesuatu” itu?
Jawabannya adalah Rekayasa Perangkat Lunak. Kalau di dalam ilmu sains, mungkin semacam Metode Ilmiah, tetapi ini diperuntukan bagi Engineer.
Jadi kesimpulan saya, baik programmer otodidak maupun yang memiliki pendidikan formal sama-sama membutuhkan teori dan praktek.
Siapa yang harus disalahkan?
Mungkin Anda berpikir bagaimana saya bisa lari dari bidang saya saat itu (biologi). Saat itu saya menilai bahwa perkuliahan saat itu membosankan dan saya mulai memikirkan bagaimana bisa saya mencari nafkah hanya dengan mengandalkan apa yang dipelajari dari perkuliahan. Saya yakin banyak di antara teman saya yang berpikir demikian, tetapi saya satu-satunya yang mulai mencoba pindah jurusan (tetapi akhirnya saya batalkan).
Kalau dilihat dari sudut pandang dosen, toh mereka hanya mengikuti kurikulum yang telah diberikan, tetapi dari sudut pandang mahasiswa, mereka juga akan harus mencari nafkah dan pencarian nafkah adalah praktek dan bukan teori atau sekadar metode baku (sebagian bahkan merupakan seni).
Jadi, memang ini adalah kesalahan sistem, tetapi sistem tersebut tidak salah karena kesalahan para perancang sistem, tetapi sistem itu salah karena pengguna sistem yang tidak berusaha meng-update sistemnya atau mengganti sistemnya dengan sistem yang lebih reliable.
Jika Anda mungkin suatu saat akan mendirikan sebuah lembaga pendidikan, saran saya adalah integrasikan antara siswa, dengan dunia luar (misalnya dengan menyatukan tugas kuliah siswa dengan permintaan dari client sungguhan) sehingga ada dana yang mengalir masuk dan dapat menutupi kekurangan yang ada pada lembaga pendidikan tersebut (intinya adalah pekerjakan mahasiswa sesuai dengan bidang yang dipilih dan jadikan itu tugas mata kuliah mereka).
[…] melihat artikel-artikel disini dan disana. Saya jadi berfikir, ada benarnya juga ketika ada yang bilang programmer otodidak lebih […]
biar bisa menjadi programmer otodidak belajar lewat apa mbak fen? ada saran? thx
mahasiswa goblok yang lulus kuliah trus jadi programmer
mahasiswa (lulusan sarjana) khususnya it sebenarnya dididik bukan buat jadi programmer, melainnya level yang lebih tinggi dari programmer seperti system analis ato project manager ato juga konsultan it, justru programmer tuh ya buat orang orang yang latar belakangnya bukan sarjana atau sarjana yang bukan it :D
mahasiswa it goblok yang lulus kuliah jadi PROGRAMMER alias BABU NYA para SISTEM ANALIS, SISTEM ARSITEK, dan PROJECT MANAGER,
hahahaa
Hmmmm, Senasip…..
tapi sebenarnya programmer yang jago itu seperti apakah?
Thomas Alva Edison,Isaac newton dan Soichiro Honda juga otodidak kok mereka enggak sekolah.
Programmer otodidak kerjanya self-employment kalo programmer sarjana kerja profesional sama orang lain
Nice Post.
ini ada postingan dengan judul yang sama
http://areyuwill.gunadarma.net/wordpress/?p=6
Kalau sarjana mereka setidaknya lebih tau teori, kalau otodidak mereka langsung maen hajar saja hehe…
kalo saya sich atur aja .. ga peduli teorinya yang penting ngasilin dut banyak..
jangan lupa ya kunjungpun web saya di http://www.desainmurah.com/wordpress
banyak tuh….contohnya aja…d vtempat kerja tman aku,,,dy baru krja,,,sambil kuliah dy krja d perkapalan gitu…debagai kabid keuangan dan pemasaran…..d situ dy punya atasan yang d kabid umum dan SDA…mengoperasikan komputer aja gak pandai…teman aku semua yang ngerjain….padahal dy lagi kuliah d jurusan sistem informatika…bapak itu padahal udah S.kom
Kalau soal otodidak atau sarjana menurut aku sih nda penting lho, untuk urusan programer tuh yang penting skill yang nyata, kedalaman pemahaman tentang programer itu sendiri,keinginan yg kuat untuk selalu meng eksplorasi dirinya dalam bidang itu…Karena RASA INGIN TAHU MENGALAHKAN SEGALANYA…..
alangkah lebih bagus kalau programmer sarjana & programmner otodidak sering2 sharing ilmu aja.. khan bisa saling menutupi kekurangan satu sama lain/biar pinternya sama rata….
(bener ga ya ??)
otodidak ma sarjana bukanlah lawan tapi kawan
so you can carry in hand to attend a number of parties
tapi kalo udah berpengalaman praktek sama saja seperti yang otodidak kemampuanya…yang penting dasar dari teori harus dipraktekan dan dilatih seserius mungkin agar bisa menjadi programmer yang handal
intinya perbanyaklah latihan…