Disclaimer: Tulisan berikut ini adalah murni pendapat pribadi saya sebagai makhluk sosial yang merasa prihatin dengan keadaan eknomi masyarakat ndeso nan miskin tanpa bermaksud menyamaratakan ataupun membeda-bedakan… *lha?*

Dimulai dari urusan rumah tangga yang selalu dikerjakan oleh pembantu yang diambil dari sebuah yayasan tenaga kerja di Denpasar. Dengan memberikan uang jaminan tiga ratus ribu rupiah saja, kita berkesempatan gonta ganti pembantu dalam waktu tiga bulan saja sampe dapetin pembantu yang klop. Ternyata pembantu pertama hanya bertahan 3 hari…. Setelah itu digantikan pembantu kedua yang memilih untuk kabur. Lanjut ke pembantu ketiga yang ternyata perjalanan hidupnya miris banget, dia ditipu oleh yayasan tempatnya bekerja dengan iming-iming gaji besar. Ah hidup di kota itu memang kejam, Bu… Akhirnya si Ibu memohon agar ia dipulangkan ke desanya. Tentu keluarga ndak ada yang setuju. Lha kalo mulangin si Ibu, berarti uang jaminan tiga ratus ribu rupiah saja itu musnah tak berbekas, dan ga dapet ganti pembantu yang baru. Alah alah, kasian banget nasib pembantu-pembantu ini, tenaganya dijual secara brutal oleh yayasan tak berprikemanusiaan ituh…
Akhirnya dengan berat hati pembantu ini dianter sopir untuk balik ke yayasan dan ditukar dengan pembantu baru lainnya. Dasar sial, pembantu pengganti inipun ternyata serigala berbulu domba yang melarikan sejumlah uang dan barang berharga dari rumah dalam tempo seminggu!
Akhirnya datanglah pembantu separoh baya asal Banyuwangi, Jawa Timur yang ternyata pandai memasak dan sedikit giat bekerja. Si Ibu inipun cerita bahwa pembantu-pembantu itu sudah diajarkan cara untuk kabur dari rumah majikan, dengan harapan uang jaminan sebesar tiga ratus ribu saja ituh raib tak berbekas. Ah kejam nian!!!! Untunglah si Ibu ini bisa bertahan lama di rumah… Karena usianya yang uda berkepala empat (catet: EMPAT!), akhirnya beliau ngajak temennya dari yayasan yang sama untuk bantuin dia ngurus dua keponakanku yang lucu bin nakal ituh… Tapi selang beberapa bulan, mereka berantem fisik dan mengakibatkan si baby sitter ini pulang kampung. Alesannya sih karna si baby sitter mencaplok lahan kerjanya. Oh ternyata ga cuman bos besar yang saling caplok mencaplok yah? Pembantu juga punya istilah pencaplokan lahan hehehe….
Yang kedua adalah cerita dari seorang salesman ndeso yang bekerja di perusahaan keluarga. Tanpa ada mandat dari sang bos, dia berani menggandakan stempel perusahaan dan membuat surat tagihan palsu. Tujuannya adalah agar customer membayar sejumlah tagihan melaluinya dan selanjutnya dibawa kabur. Yeahhh, ratusan juta dibawa kabur, diapun lenyap bersama HP kantor…. Alhasil kejadian ini kami adukan ke kepolisian setempat.
Yang ketiga adalah cerita dari seorang buruh serabutan yang menjaga gudang. Dengan dalih pingin punya ponsel sebelum pulang kampung, diapun memberanikan diri untuk kredit handphone seharga 1x gaji!!! Ya memang cuman seharga 1x gajinya yang ga nyampe 6 digit, tapi lumayan mahal bagi seorang buruh serabutan lulusan SMK yang berasal dari kampung. Setidaknya dalam sebulan dia harus menekan uang makannya sampai seratus lima puluh ribu, uang kos seratus lima puluh ribu dan beberapa rupiah untuk dikirim ke kampung plus uang jajannya. Demi menunjukkan status sosialnya bahwa dia sudah menjadi orang kota yang modern, dia rela makan sekali dalam sehari demi melunasi cicilannya selama 1 tahun… Dengan sedikit kecewa, mama coba bertanya ?Gus, ngapain beli HP kredit? Berapa cicilan yang harus kamu bayar? Kenapa ga kamu tabung dulu aja, atau bilang sama Ibu kek. Ibu kan bisa bantu kamu…?. Jawabnya cuman singkat, ?Kalo nabung dulu kapan saya bawa HP ke kampung, Bu??.
Arghhhh…. masyarakat desa semakin konsumtif mengikuti tren orang-orang kota yang gengsian dan suka bikin heboh itu… Seandainya saja dia ga ngerasain kehidupan di kota, mungkin dia akan menjadi petani yang giat bekerja dan hanya memikirkan uang makan untuk anak-anaknya, bukan memikirkan cicilan ponsel yang notabene ga penting banget.
Dia di mo nelpon sapa???Katanya disana ga ada yang punya HP…
Katanya disana ga ada yang punya telpon…
Sodara di kota ato desa lain juga ga punya…
Arghhhh aku jadi makin bingung ama pemikiran orang desa sekarang. Patut dibanggakan, atau justru harus kecewa?

Update:

Di rumah lamaku, dulu sering banget para pembantu ini kongkow di depan rumahku tiap jam 4 sore sambil bawa gandengannya masing-masing (HP di tangan kanan dan anak majikan di tangan kiri) *ah terlalu ngarang*. Ga lama kemudian… Terjadilah keributan, teriak-teriak, ngakak-ngakak, dan.. ah sumbernya ternyata pembantu-pembantu itu yang lagi asik nelpon ke pacar-pacarnya huhuhuhu… Dan bisa ditebak… *gedubrakkkk* “huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa huaaaaaaaaaaa”… arghhhh anak majikannya nyungsep di got, kok pembantunya masih asik nelpon? Walah.. Walah…

OOT: Matching ga seh kalo potoku ama Kevin ini kubilang “poto ibu dan anak?” hehehehe….