Disclaimer: Tulisan berikut ini adalah murni pendapat pribadi saya sebagai makhluk sosial yang merasa prihatin dengan keadaan eknomi masyarakat ndeso nan miskin tanpa bermaksud menyamaratakan ataupun membeda-bedakan… *lha?*
Dimulai dari urusan rumah tangga yang selalu dikerjakan oleh pembantu yang diambil dari sebuah yayasan tenaga kerja di Denpasar. Dengan memberikan uang jaminan tiga ratus ribu rupiah saja, kita berkesempatan gonta ganti pembantu dalam waktu tiga bulan saja sampe dapetin pembantu yang klop. Ternyata pembantu pertama hanya bertahan 3 hari…. Setelah itu digantikan pembantu kedua yang memilih untuk kabur. Lanjut ke pembantu ketiga yang ternyata perjalanan hidupnya miris banget, dia ditipu oleh yayasan tempatnya bekerja dengan iming-iming gaji besar. Ah hidup di kota itu memang kejam, Bu… Akhirnya si Ibu memohon agar ia dipulangkan ke desanya. Tentu keluarga ndak ada yang setuju. Lha kalo mulangin si Ibu, berarti uang jaminan tiga ratus ribu rupiah saja itu musnah tak berbekas, dan ga dapet ganti pembantu yang baru. Alah alah, kasian banget nasib pembantu-pembantu ini, tenaganya dijual secara brutal oleh yayasan tak berprikemanusiaan ituh…
Akhirnya dengan berat hati pembantu ini dianter sopir untuk balik ke yayasan dan ditukar dengan pembantu baru lainnya. Dasar sial, pembantu pengganti inipun ternyata serigala berbulu domba yang melarikan sejumlah uang dan barang berharga dari rumah dalam tempo seminggu!
Akhirnya datanglah pembantu separoh baya asal Banyuwangi, Jawa Timur yang ternyata pandai memasak dan sedikit giat bekerja. Si Ibu inipun cerita bahwa pembantu-pembantu itu sudah diajarkan cara untuk kabur dari rumah majikan, dengan harapan uang jaminan sebesar tiga ratus ribu saja ituh raib tak berbekas. Ah kejam nian!!!! Untunglah si Ibu ini bisa bertahan lama di rumah… Karena usianya yang uda berkepala empat (catet: EMPAT!), akhirnya beliau ngajak temennya dari yayasan yang sama untuk bantuin dia ngurus dua keponakanku yang lucu bin nakal ituh… Tapi selang beberapa bulan, mereka berantem fisik dan mengakibatkan si baby sitter ini pulang kampung. Alesannya sih karna si baby sitter mencaplok lahan kerjanya. Oh ternyata ga cuman bos besar yang saling caplok mencaplok yah? Pembantu juga punya istilah pencaplokan lahan hehehe….
Yang kedua adalah cerita dari seorang salesman ndeso yang bekerja di perusahaan keluarga. Tanpa ada mandat dari sang bos, dia berani menggandakan stempel perusahaan dan membuat surat tagihan palsu. Tujuannya adalah agar customer membayar sejumlah tagihan melaluinya dan selanjutnya dibawa kabur. Yeahhh, ratusan juta dibawa kabur, diapun lenyap bersama HP kantor…. Alhasil kejadian ini kami adukan ke kepolisian setempat.
Yang ketiga adalah cerita dari seorang buruh serabutan yang menjaga gudang. Dengan dalih pingin punya ponsel sebelum pulang kampung, diapun memberanikan diri untuk kredit handphone seharga 1x gaji!!! Ya memang cuman seharga 1x gajinya yang ga nyampe 6 digit, tapi lumayan mahal bagi seorang buruh serabutan lulusan SMK yang berasal dari kampung. Setidaknya dalam sebulan dia harus menekan uang makannya sampai seratus lima puluh ribu, uang kos seratus lima puluh ribu dan beberapa rupiah untuk dikirim ke kampung plus uang jajannya. Demi menunjukkan status sosialnya bahwa dia sudah menjadi orang kota yang modern, dia rela makan sekali dalam sehari demi melunasi cicilannya selama 1 tahun… Dengan sedikit kecewa, mama coba bertanya ?Gus, ngapain beli HP kredit? Berapa cicilan yang harus kamu bayar? Kenapa ga kamu tabung dulu aja, atau bilang sama Ibu kek. Ibu kan bisa bantu kamu…?. Jawabnya cuman singkat, ?Kalo nabung dulu kapan saya bawa HP ke kampung, Bu??.
Arghhhh…. masyarakat desa semakin konsumtif mengikuti tren orang-orang kota yang gengsian dan suka bikin heboh itu… Seandainya saja dia ga ngerasain kehidupan di kota, mungkin dia akan menjadi petani yang giat bekerja dan hanya memikirkan uang makan untuk anak-anaknya, bukan memikirkan cicilan ponsel yang notabene ga penting banget.
Dia di mo nelpon sapa???Katanya disana ga ada yang punya HP…
Katanya disana ga ada yang punya telpon…
Sodara di kota ato desa lain juga ga punya…
Arghhhh aku jadi makin bingung ama pemikiran orang desa sekarang. Patut dibanggakan, atau justru harus kecewa?
Update:
Di rumah lamaku, dulu sering banget para pembantu ini kongkow di depan rumahku tiap jam 4 sore sambil bawa gandengannya masing-masing (HP di tangan kanan dan anak majikan di tangan kiri) *ah terlalu ngarang*. Ga lama kemudian… Terjadilah keributan, teriak-teriak, ngakak-ngakak, dan.. ah sumbernya ternyata pembantu-pembantu itu yang lagi asik nelpon ke pacar-pacarnya huhuhuhu… Dan bisa ditebak… *gedubrakkkk* “huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa huaaaaaaaaaaa”… arghhhh anak majikannya nyungsep di got, kok pembantunya masih asik nelpon? Walah.. Walah…
OOT: Matching ga seh kalo potoku ama Kevin ini kubilang “poto ibu dan anak?” hehehehe….









Yah itu yang diramalkan oleh para pakar pangan amrik mbak :D suatu saat nanti manusia menderita kelaparan hebat. karena orang2 desa udah ga mau tanam2 lagi. semua ke kota.
kalo orang desa ga ada yang tanam2 lagi, darimana pabrik rokok marlboro dapetin pasokan tembakau terbaik indonesia? hiks… sedih sebenernya, tapi sedikit bangga karna mereka berpikiran maju….
kenapa dengan orang desa? hah? ada masalah? *memobilisasi orang desa untuk hijrah ke kota*… wakakakak
ya elah ichanx, apa bedamu dengan bule penjajah itu?? org2 desa memang sedikit berpikiran maju, tapi mereka ga berbekal kemampuan/intelengensia yang cukup untuk berjuang di kota… jadinya dibodohi sama modernisasi…
Itulah mbak…
Pendidikan tidak cukup…digempur dengan globalisasi …
Akhirnya ndak siap…
Ya jadi aneh gitu….
betul itu mas, harusnya pemerintah itu mendukung lho org2 desa yang mau hijrah ke kota, dibekali ketrampilan apa kek… tapi bisa2 desa lenyap yah kalo ide saya ini disetujui… kekeke
ya udah gantian aja..mau??
mbaknya sekarang ke desa. Ngolah sawah gitu biar menghasilkan padi dan palawija lainnya.Nyangkul, berladang dan lain sebagainya..
Begitulah mbak klo petani ga dapat perhatian. Klo menaikkan harga BBM pemerintah semangatnya 45. Klo beras naik dikit aja langsung operasi pasar dari beras impor. gimana petani bisa maju??Mereka ga dapat apa2. Klo mau bukti, silahkan tukar posisi aja. Mbak jadi petani..
Jadi ga bisa disalahkan juga kalau mereka akhirnya mengadu nasib di kota dan akhirnya terkontaminasi budaya konsumerisme masyarakat kota.
salam
saya uda merasakan gimana bajak sawah, nanam bibit, jaga sawah pagi-malem, sampe masa panen pun ikut terlibat waktu masih SD di desa dulu… Tapi rupanya saya sebagian dari orang desa yang beruntung… Saya ga 100% menyalahkan orang desa yang hijrah ke kota, mungkin ini masalah siap atau tidaknya…
biarlah waktu yang akan menjawab dilematis ini
ciehhh puitis amat Om… hehehe.. abis nambah umur rupanya menambah romantisme ya? halah…
Wah, jadi inget pengalaman di Bali, sama tuh
dibagi dong pengalamannyaaa hehehe
orang desa kalo sudah ke kota itu gengsi nya tinggi sekali, mereka harus menunjukkan bahwa mereka itu hidupnya jauh lebih baik di kota, jadi kalo pulang ke desa harus pamer, daripada malu..
iyah, keliatannya memang begitu… kalo uda ke kota, pulang kampung harus bisa bangun rumah 2 tingkat… pengalaman di kampung halamanku, tepatnya di rumahku yang notabene termasuk perkampungan ndeso ya gitu juga…
bawaan mba..bukan cm orang desa aja kali..cm mungkin kasusnya beda2 tapi semuanya gara2 GENGSI
tapi gengsinya orang kota masi bisa dimaklumi ketimbang gengsinya orang ndeso…. yeah, maybe ini sebagian aja
mereka kan juga pengen gaul fen, pengen REG spasi agnes monica dan kirim ke 8888888 getu lohh kekekek..kek.., makanya mereka beli hape
oh iya, kan telkomsel uda menjangkau desa yah? kekeke lupa sayah…
@ ichanx
iya maklum, lu kan baru dari ‘desa’ juga..
iya, fen, mereka kan pengen juga jadi orang bergengsi, meskipun melalaikan kebutuhan makan, minum, dan berbagai kebutuhan premier lainnya…
tapi kapan mereka bisa sadarnya kalo gengsi itu dosah? huh kayak sayah ndak gengsian aja :D
[…] teman-teman yang membantu saya memberikan backlink : Mas Iwan Rystiono yang sedang ngadain kontes Mbak Fenny yang sedang bingung dg orang desa Mas Zalukhu yang sedang belajar masang VSAT Nengbiker yang sedang […]
yah, sayah sebagai orang desa juga, hanya bisa bernyanyi
kata orang di atas bumiiiii, kita semua samaaaa
*siul²*
sbg org desa juga, mohon org kota ikut peduli dg nasib mereka yg disana
ada 64 desa yg belum terjamah listrik diWonosobo
wah… kalo disini malah org2 desanya yang tetep ga mau pasang listrik meskipun LMD..
mending juga di pabrik, bikin pupuk buat ketahanan industri pangan indonesia. daripada di kota tapi gak ada kerjaan. kota yang dimaksud di sini tuh apa sih? jakarta?
berhubung saya di bali, jadi yang saya maksud adalah Denpasar, dan orang-orang desa yang saya maksud adalah orang-orang perantauan dari Jawa
Org desa pengen diliat berhasil setelah merantau ke kota.. Trz dia beli hp deh untuk pamer ma tmn2nya di desa..
Hehehehehe….
biasanya gitu yah? hihihi… *jadi inget jadul pas baru2nya bw HP.. noraaaaak banget*
hahahahaha yang soal sales paling lucu… piye toh? punya hp tapi tak tau hub siapa.. hehehe :P
ohhh itu yang buruh serabutan… biasanya dia bawa HP buat hubungin pelanggan ato ke kantor.. sekarang entahlah kekekeke.. nelpon yayank kunti kaliiiih
dulu pendidikan dan trasmigran digalangkan. udah pada pinter pada pindah kekota.
sekarang cari makan susah banyak pemuda kampung yang rela jadi buruh. akibatnya yang jadi petani umurnya udah diatas 40 yang tenaganya ga sebarapa. kebanyakan nonton sinetron pemudi kampung jadi pada gengsi ama teman klau ga punya makeup yang berkelas or hp model terbaru. yang jadinya mereka buat film “Belum ada judul”
noki aja dulu orang kampung klau disuruh jadi petani mikir 50 X. cos gaji dan pekerjaan antara sekarang denga jadi petani lebih enak yang sekarang
kalo ‘belum ada judul’ mah bisa2an manusia, bukan orang desa ajah kekekeke
heheheee… mereka kreatip2 juga yak… nekadnya juga bikin salut… brani ambil resiko… aku aja mo kredit2 mikirnya lammmmaaaa bgt!
pake acara ga jadi jugak… ah itu henpon palingan setelah balik dari kampung dia jual lagi :P
aku aja baru nerima surat teguran gara-gara lupa bayar cicilan kekekeke… parah mah pikunnya sayah
beli hp, tapi mereka (maaf bukan menyepelekan pembantu) tapi kadang ga tau mau nlp siapa, kita hanya bisa geleng2 :-)
ada yang unik dari pembantu2 di kompleksku… kalo uda jam 4 sore mereka ngumpul rame2 trus smuanya pada nelpon gebetan masing2 tanpa peduli anak majikannya jato nyungsep di got kekekeke….
itulah gengsi……gak bisa diukur dengan logika
sama kayak cinta yah? “cinta ini memang tak ada logika” *nyanyi* huaaa kebayang2 agmon aka agnes monica kmaren di xl pestaphoria bali :D
Sebenernya lebih logis kalo dia bilang “Kan biar bisa telpon2an sama pembantu sebelah, Bu…”
Gt yaa… haha.
Daripada sekedar pamer ke kampung? Mending skalian dia beli hp buat sekampung kalo gt…
bener tuuuw… biasanya klo dah ke kota, pasti ketemu gebetan… akhirnya ya itu… “heloooo heloooo pangeran pujangga kakandaaaaa, lagi dimanaaa?” huhuuhuhu
mereka kebanyakan nonton sinetron kali ya fen? :D
kalo di sinet kan biasanya orang miskin dibeliin HP ama orang kaya yang cinta matih sama dia….
Dah sembuh toh mba? hihihihi
Itu buruh di cerita ketiga curhat ke gue katanya dia beli HP tuh biar bisa telpon2an dari kampung ke Fenny kalo dia kangen nah loe…..
Uda sembuh, tapi flunya masih… sekarang uda bisa jalan2 n ngenet gratisan kekeke…
aihhhh…. ndak mauuuu… masa tega sih saya disandingkan dengan pemuda seperti ituh? hiks…
Ini akibat ulah operator seluler juga yang layanannya sekarang sudah merambah ke desa-desa. Coba aja jangkauannya masih di kota-kota, pastilah orang desa nggak minat pakai HP.
kalo saya perhatiin, HP sekarang uda jadi kebutuhan primer, ga kalah pentingnya ama sandang, pangan dan papan… Justru itu yang harus diluruskan… Cuman ya memang susah meluruskan besi baja yang sudah bengkok *OOT*
wew…jadi mikir nii….orang kota ato desa, kalo dah kena penyakit gengsi..sama aja d mbak fen…tak kenal dengan logika…
huehuehue… tapi gengsi ala kota dan desa ituh beda…. lama-lama postingan sayah keluar jalur neh kekekeke…. tapi tak apa… wong memang potingannya ndak jelas juga apa kamsudnya…
Jaman udah kebalik yah, orang kota pengen kedesa untuk menghirup segarnya udara desa, malah orang desa yang rame-rame ke kota untuk jadi pembantu. Oalah mak!
hehehe… sekarang ga semua desa sesejuk dan sesegar dulu… kunang-kunang aja ga betah… *masi penasaran ama kelangkaan kunang-kunang huhuhuhu*
[…] ada yang manggil, tapi dengan jurus gengsi, aku ga noleh […]
Mumpung masih bicara masalah pembantu………………………
1. Tolong jangan bicara masalah uang dan uang saja, kenapa orang desa yang dulu polos sekarang berani nekad? tipuan orang kota. Dirayu, dibujuk,diimingi-imingi,diberi impian indah, etc tentang glamornya kota. Siapa pelakunya? hayo ngaku-ngaku?
>> Saya rasa baik orang desa maupun orang kota tidak memiliki sifat/karakter yang tidak berbeda jauh karna sama-sama bukan manusia sempurna (sama-sama bisa jadi tukang tipu atau sama-sama berkesempatan menjadi orang kaya, misalnya). Yang beda adalah skill. Dan orang-orang desa ini lebih cocok dikatakan sebagai korban modernisasi. Ga semua orang kaya peduli sama orang miskin, bukan berarti semua orang kota jahat. dan sebaliknya :)
2. Tolong perhatikan (baca : periksakan) kesehatan pembantu…….
Mengapa? nanti menyesal di kemudian hari……Ilustrasi nich. seorang kawan, suami istri dokter, mempunyai seorang pembantu yang baik, tidak nyolongan,bisa ngasuh bayinya. Pokoknya bayinya jadi dekat. Tapi apa yang terjadi? setelah 2-3 bulanan, si bayi masuk RS karena panas dan kejang. apa diagnosisnya? MENINGITIS TB!!! dari mana tertular? dari yang dekat yg tiap hari mengasuhnya. (aku tidak bilang pembantunya lho). Tanya kenapa? karena mereka (aku dak nyebut dokter lho) lupa melakukan anamnesa (apa lagi ini) dan Check up pembantunya……….
Jadi kasiah Adik Kevin kalau salah pengasuhnya…jadi…..
>> pembantu di rumah kami sebelum diterima bekerja sudah menjalani medical checkup di Prodia. Ini dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu mulai santer diberitakan bahwa kejadian tersebut di atas bukanlah main-main. Tapi thx atas masukannya, pasti berguna buat yang lain…
waduh postingannya panjang banget, jarak nya deket2 lagi.. hu hu!!!
terus gmana dong solusinya buat orang2 seperti itu fen??
saran buat pemerintah mungkin?
**daripada ide BLT yang bikin orang desa malah berpikir semakin ndesa….
kita orang kota juga lebih sering memanfaatkan cara berpikir mereka yang mba fenny ceritain itu.
Misal ya itu : yayasan pembantu, tukang kredit, dan yahh… si majikan sendiri, karena kalo orang desa tidak berpikir ndesa gitu, mana mau jadi pembantu ya ga. mending nanem tanaman di desanya, apa yang jadi sumber daya alam dibudidayakan, dijual ke kota, jadi orang kaya di desa.
(is it that simple…)
saya sih ndak punya ide, wong saya bukan pakarnya, juga bukan orang kaya yang bisa bagi-bagi harta ke masyarakat desa begitu… tapi kalo dari segi pandang saya, lebih baik tinggal di desa dan bekerja di desa untuk memajukan desa itu sendiri. tinggal di desa bukan berarti kere kan? banyak juga orang-orang kota yang pengen tinggal di alam pedesaan… Itu bisa jadi nilai lebih, bahwa desa sebenarnya jauh lebih ramah daripada kota.
tapi ada juga pembantu yang tidak tau ke-pembantu-an nya… dan lebih gaya. yang seperti ini wempi temui 1 orang dalam kehidupan wempi, yang sangat baik ada 2. selebih nya biasa saja…
saya pernah punya pembantu yang baik banget, sampe-sampe kita anggep dia seperti keluarga, karna keuletan dan kebaikannya itu. tapi…. hobinya itu loh… pacaran mulu tiap malem huhuhuhu… sampe majikannya kalah saing deh *glek*
ratu teganya sapa yah?
jadi sebenarnya ga ada bedanya juga… yang memang kaya…. yang sama sekali ga bisa dibilang kaya… yang penting gaya!!! ah…
gaya dada ato gaya kupu-kupu? :D
ini memang masalah ekonomi…
kapan ya Indonesia jadi lebih baik?
makanya aku ga mau jadi pembantu
kapan ya?
Koq ama kepin? bukannya poto ama 3 anak yang ditemukan tidak beribu kemaren
Pembokat sekarang emang pada gaswat semua tuh.. bukannya ngurus kerjaan malah ngrumpi…
makanya cari pembantu yang uda paroh baya aja biar ga neko2 kekeke
betul banget, mbak fenny, agaknya nilai2 hedonisme dan konsumtiviusme sudah menjarah hingga ke pelosok2 desa. tentu saja, penyebarnya adalah anak buah teknologi bernama televisi itu, hehehehe
kadang-kadang orang kota bisa ndeso mendadak…. semua gara2 modernisasi…
orang desa..yang dikota.
Terkadang klo hendak pulang kampung (*mudik), biasanya pada nge-gadaein barangnya untuk beli macam perhiasan bahkan mobil gituh. buat dibawa ke kampung halaman, ya pamer juga cih klo dah kerja di kota….Tapi setelah balik ke kota bingung pula cara mbalikin noh barang-barangnya yg di gadaein …
oh iya, pegadaian… pegadaian makin maju gara2 orang yang ga bisa nebus barangnya lagi….
Kali atmosfer kehidapan yang membentuk sperti itu mbak…
Jadi mereka mengikuti pola yang ada.
Lah di sinetron (maaf tapi bukan penggemar sinetron) mereka kan diberi gambaran yang sperti itu. Klo gak punya ini ketinggalan jaman. Klo gak bisa begitu dibilang katrok….
makanya jadi banyak orang kota yang katrok juga….
Yee…orang Ndeso gak selalu gitu yoh….ituh kan artinya mereka juga ingin maju, gak cuma orang kota ajah yang punya hape, orang desa juga’ [-(
*gak trima
iya, makanya saya diatas kebingungan, harus seneng ato justru sedih dengan keadaan ky ginih. saya ini juga orang desa, tp mungkin nasib saya lebih beruntung dari mereka… huhuhu….
coba cari solusi bagaimana kalau jabatan petani itu bisa sebuah kebanggaan, sehingga para orang desa yg notabanenya petani, gak mau lg ke kota … jd pembantu, buruh, kacung dll.
kalau ada yg nanya, apa sih kerjaan babe lu? dg lantang si anak menjawab PETANI! … nah kerenkan … tp gmn caranya ya? gw jg bingung
gimana ya? ga tau juga deh… tp seharusnya para petani uda bangga karna tanpa mereka kita ini masak apa di rumah? ga ada padi, ga ada beras.. ga ada sayur2an, ga bisa masak juga… tapi masalahnya kapan pemerintah berhenti menyuplai bahan panganan tsb dari luar? Kalo memang produksi petani blm mencukupi kebutuhan bangsa, kenapa ga memperluas bidang pertanian? lahan petani aja dengan seenaknya digusur, dibeli dengan iming2 harga yang katanya tinggi… huhuhu
udah terdoktrin ama tayangan sinetron kali, yang mengumbar2 enaknya jd orkay, dan juga sering mengumbar kalo “orang miskin” bisa jadi kaya kalo ke kota, siapa tau bisa ditaksir sama anak majikan
oh god!! gw kok kaya benci bgt sm sinetron yak?
sinet jaman sekarang uda jauh dari realita… anak SD kenal pacaran, SMP dandan menor, nyetir mobil, hamil di luar nikah… blm lg sinet2 yg menggambarkan orang miskin menikahi orang kaya, orang miskin dapet warisan tak terduga… huhuhuhu… *kok jadi bahas sinet?* kekekeke
sebenernya sih masalah krisis kepercayaan deh kayana
saya juga krisis PeDe :D
yang penting gaya kali mba….
saya aja ampe sekarang belum mampu beli hape, jadi kanggoin dah hape buntut walopun sering ngdrop yang penting masih bisa dipake…
yg penting kan HP itu sesuai kebutuhan… klo butuh buat sms n telp doang, ngapain beli yang canggih2? hehe kan sayang, canggih tp ga ngerti makenya…
oww gw tau .. dia beli hape buat maen game tuhh
pengalaman pribadi yaaaa *kaburrrr*
ambil pembantu 300rb? di sini uda 500rb loh fen.
300rb itu jaminannya lho, bukan gaji pembantunya… kalo gajinya 500rb jg kok. pembantu mah sekarang mahal…
Udah cocok tuh…
Tinggal milih pangerannya…tapi anaknya kok ga mirip yak…
ah… anak saya kan mirip papahnya *ngeles*wekekeke
OOT:
antownholicontest#3 sudah diumumkan, silakan mampir ke blog saya untuk mengetahui informasi lebih lanjut.
Makasih…
makasi juga infonya mas..
sorry jeng, tolong dihilangkan hal2 yg berbau rasisme kek gini. saya juga orang desa dan kebetulan juga saya orang jawa meski gak sepenuhnya (silangan jawa-bali he…), tapi saya gak seperti yg situ kemukakan panjang lebar itu, kebetulan lagi saya juga pembantu yg merantau juga (selama blom jadi bos, saya istilahkan jadi pembantu) tapi saya lebih sedikit beruntung dari pembantu-pembantunya situ, yah… sukur alhamdulillah nasib saya gak seperti pembantu2 kalian (gak terima niy ceritanya), dan satu lagi, perilaku saya gak seperti itu !!!.
kok hampir semuanya(cooment disini) pada memvonis pembantu seperti itu ya, apa kalian gak nglihat sisi baiknya seorang pembantu, klo memang kalian vonis kek gitu kenapa kalian masih saja nyari pembantu ??? kenapa gak kalian kerjakan sendiri saja HAH…!!! sebenernya sapa yg perlu disalahkan agen/pembantunya? GAK USAH NYARI MANA YG SALAH/BENER. kalo kalian tahu dan mengerti mengenai ini, kenapa kalian diam saja, lapor kek ke disnaker, gak bertindak sama sekali seolah meng-amin-i semua ini, kalian yg dibilang berpendidikan seharusnya kasi contoh dong, ajarin kek ato apalah, jangan cuman sindiran, cemoohan, ato lebih parah berpikir “lah saya kan bayar mereka” (anj**g loe punya hati nurani kaga siy !).
udah ah cape` !!!
waduh, tp kynya kamu salah menanggapi komentar2 yg ada disini. dr postingan saya sudah menunjukkan bahwa tidak semua pembantu itu jelek, dan saya juga di awal postingan menekankan kalimat yang berarti saya benar-benar membutuhkan tenaga pembantu. saya tidak menyalahkan agen, dan pembantu. buktinya saya punya pembantu selama 30 tahun bekerja, dan juga tidak semua orang desa itu ndeso, contohnya banyak kok. saya juga menekankan bahwa saya ini orang desa dari sebuah kota kecil di jawa timur. saya orang perantauan yang merasa prihatin dengan orang ndeso, bukan orang desa… saya juga mohon maaf kalo memang kamu tersinggung, tp saya yakin ini bukan maksud kita semua.
huehuehuehue sumpah ngakak setelah baca lagi commentku tadi
serius amat yak
pis pis pis pissssss
dosaaaaaaaaa huhuhuuhuhuhhuhu…. *kok ga nyadar yah kalo situ niatnya ikutan kontes* huhuhhu
ah.. itu sih pengaruh tayangan sinetron2 di tipi tuh..
gmn mo berkembang neh bangsa indonesia klo tontonan nya kayak bgituan ….
protesin sineasnya aja deh… kalo artis kan mau2 aja….
Mungkin orang desa sekarang terinspirasi dari tukul fen, kan wong ndeso yang sukses hehehe, lo lagi sakit ka fen ?
Eh pernah ketemu wira ama alex ?
iyah sakit, harus dirujuk ke Bangli neh wekewkekekekew… klo Alex mah sejak dia terjerumus di dunia MP n hentai dan putus kuliah, aku ga pernah denger kabarnya… klo wira mah denger2 uda mo merit malah….
Udah pantes kok… cepetan ya… aku tunggu undangannya..
undangan apa nih mas?
mereka adalah orang-orang yang kurang berpendidikan
dan bukan hanya orang desa aja yang seperti itu
orang kota yang juga tidak memperoleh pendidikan, kurang lebih memiliki perilaku/pemikiran yang sama
dan sekarang ini telah banyak orang desa yang berpendidikan
jadi menurutku judulnya kurang cocok :)
yah… ndak mungkin juga saya ganti judulnyah, jadi biarkeun sajah… thx masukannya
tambahan:
kebanyakan yang seperti itu memang orang desa
umumnya mereka ‘terpaksa’ ke kota karena miris melihat kehidupan di desa yang tidak pernah berkembang
dan setelah di kota, terkejut melihat pola hidup masyarakat
ditambah dengan adanya ‘tuntutan’ dari masyarakat di desa yang menganggap mereka (orang-orang yang ‘terpaksa’ ke kota) sukses hidup di kota
jadinya mereka seperti itu lah
miris nian kehidupan ini…
orang kota juga banyak yang bertingkah seperti orang desa…
Jadi ingat “100 tokoh yang menghiasi jakarta”-nya Benny n Mice. Tokoh Heru yang membeli HP 3G; ketipu, dan akhirnya sadar klo buatnya HP belum ada gunannya. Masih ada wartel buat nelpon ke kampung. Masih harus banyak nabung. Masih harus ngirim duit buat emak di kampung.
saya aja termasuk tipe orang yg tertipu, karna HP 3G saya ga buat video call… cuman buat SMS. koneksi internet 3G ya pake modem lain… bener-bener konsumtif :D
kevin…??? lutuna si pipi bakpau…

lucu bgt mbak anaknya…
idih… guuuueeeemeeeessssss bgt
btw itu ponakanku loh, bukan anak :D
mungkin cocok juga dengan teori bahwa kelahiran tahun 90 an adalah angkatan yang mau nya serba instan dan maunya serba express… semakin sulit menemukan generasi yang mau kerja keras, merintis karir dari nol untuk mencapai puncak, banyak jalan kaki supaya besok bisa beli mobil dst….
huh… jangan-jangan kita juga berperan dalam penurunan mentalitas itu ya….. capee deeh
wah jangan-jangan hormonal neh hihihihih