Ya, mungkin aku yang tidak mengerti apa itu cinta. Dan akupun tidak mengerti akan arti hidup. Masa kecilku seakan selalui menghantui kehidupanku. 17 tahun hidup penuh penderitaan dan minim kasih sayang keluarga, akupun tumbuh menjadi seorang wanita yang selalu memiliki sifat kekanakan dengan egonya yang tinggi serta emosi yang tak terkendali. Aku yang terbiasa hidup dalam kekerasan dan perkelahian orang tua, aku yang selalu tidak memiliki banyak teman dan juga aku yang selalu ingin diperhatikan, kini telah 100% berubah menjadi sesosok monster besar yang tidak memiliki nyali. Hanya ingin mencintai tanpa ingin dicintai. Untuk apa dicintai, jika hanya kekerasan dan kesakitan yang didapat? Cukuplah aku belajar dari orang tua ku yang telah membina rumah tangga sebanyak 2 kali *dan kuanggap mereka gagal*, namun seolah-olah itu hanya keinginan sesaat. Mencintai tanpa dicintai tentulah amat menyakitkan bagi orang lain, tapi bagiku itulah surga, karena aku tak perlu merasakan ’tersentuh’ oleh kekerasan.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa merasakan cinta yang sesungguhnya. Tapi, sejauh mana aku mengerti akan cinta ini? Masa lalu masih saja terus menghantuiku. AKU TIDAK INGIN DIJAJAH PRIA! Doktrin itu telah menjadikanku selalu berpikir bahwa tidak ada pria yang tidak menjajah wanita. Dengan begitu, akupun akan menjadi sang penjajah. Ya, akulah wanita sang penjajah itu!

Apa aku salah? Tentu! Tapi bagaimana untuk mengubahnya? Siapa yang harus disalahkan atas semua ini? Aku? Pria? Wanita? Orang tuaku? Atau masa kecilku?

Tolong, mengertilah keadaanku dan traumatisku. Aku masih belum sepenuhnya memaafkan orang tuaku, tapi aku juga tidak bisa melemparkan kesalahan pada mereka.

Aku hanya ingin merasakan cinta yang sebenarnya, yang kalian semua rasakan. Bukan cinta dalam bayang-bayang masa kecilku….