Akhirnya sampai juga di bagian akhir dari rangkaian perjalanan saya mengelilingi sebagian Bali.

24 Oktober 2008

Makan siang hari ini adalah babi guling Pak Malen. Banyak yang menyebutkan bahwa babi guling disini enak. Saya dan Chriswan mulai menyusuri Jl. Sunset Road demi mencari warung babi guling ini. Tak dinyana, ternyata tempatnya bersebelahan dengan ruko yang sempat ingin saya kontrak. Namun berhubung rolling door di ruko itu belum terpasang, akhirnya saya memilih lokasi lain. Ternyata makanan disini tidak senikmat yang saya rasakan di Gemah Ripah - Denpasar. Kuahnya spicy, mirip dengan yang di warung babi guling Chandra - Denpasar. Tapi secara keseluruhan, Gemah Ripah is the best!

Babi guling Pak Malen

Kemudian kami berjalan-jalan di sepanjang Seminyak (baca: jalan kaki). Serasa menjadi turis di kota sendiri. Sudah sejak lama saya memimpikan bisa berjalan kaki di sepanjang Kuta, bahkan kalau perlu sepanjang pantai ini. Window shopping, pasti menyenangkan! Dan hari ini saya merealisasikannya. Rencananya pukul 4 sore nanti akan berangkat ke Pantai Balangan untuk mengantar Chriswan memotret sunset, jadi kami menghabiskan waktu untuk berjalan di Seminyak, lalu mampir ke stand BBC sejenak. Ada Bli Dewaji dan Dexno yang sudah berjaga-jaga di stand sambil menikmati Bir Bintangnya. Saya hanya merampas makanan yang tersedia di meja, lalu kabur menuju ke Pantai Balangan.

Perjalanannya cukup jauh, saya menempuhnya melalui Simpang Siur. Pantai Dreamland menjadi patokan saya, karena begitulah teman-teman memberitahu saya. Sesampainya di Pecatu Graha, saya kebingunan harus ke arah mana. Ada yang bilang ke kiri, ke kanan, lurus… Ah pusing! Untunglah akhirnya ada Mbak berbaik hati yang memberi petunjuk arah.

Setelah sampai di Pantai Dreamland, ada tikungan ke kanan dan di dekat situ ada petunjuk arah “To Balangan Beach”. Memang bukan petunjuk resmi, tapi setidaknya petunjuk itu tidak berbohong. Setelah melewati jalanan berbatu yang cukup panjang, akhirnya kami tiba di Pantai Balangan. Hasilnya bisa dibaca di sini.

Sepulang dari Balangan, kami menuju ke Mykonos di sekitaran Oberoi untuk makan malam. Tempat ini memang terkenal, banyak yang bilang makanan disini murah dan enak. Memang murah, tak terlalu mahal, tapi sayang orange juice yang seharga 10 ribu itu tidak seenak harganya. Tapi makanannya enak, kok!

Spaghetti Souzukakia, Paphuchakia a.k.a terong bolognese, Taverna Sea Food Platter di Mykonos

Setelah selesai makan, kami kembali ke stand Kuta Karnival, duduk di pinggir pantai hingga larut malam. Betapa penatnya hari ini, dan saya akan segera beristirahat dengan nyenyak… Sangat nyenyak.

25 Oktober 2008
Jadwal hari ini adalah ke Titiles, Bali Food Festival dan ke Sanur untuk menemui Mel Lange, salah satu keturunan Mads Lange (Mads Lange adalah pria berkewarganegaraan Denmark yang banyak berjasa untuk Bali pada abad ke 16 dan sempat saya ceritakan di sini).

Di Bali Food Festival, kami mengunjungi beberapa stand, diantaranya Bali Bakery, Kebab Palace, Fukutaro, Queen’s Tandor dan entah apa lagi. Panas menyengat, kami tak tahan. Lagipula masih banyak yang harus diselesaikan hari ini. Akhirnya kami memutuskan berangkat ke Sanur.

Kunjungan ke Bali Food Festival

Chriswan berjanji akan menemui Mel Lange pukul 3 sore, dan jarum jam kini menunjuk ke arah pukul 2. Semoga saja saya tidak lupa arah, jadi tidak perlu berputar-putar di Sanur. Tujuan kami adalah Cafe Batu Jimbar, di Jl. Danau Tamblingan. Dengan modal nekad dan sedikit memory di otak, saya memutuskan untuk masuk melalui Mc.Donald’s. Seingat saya, Jl. Danau Tamblingan ada di daerah sini. Untuk memperkuat ingatan, saya menelpon si chubby dan ternyata benar! Ini pertama kalinya ingatan saya sempurna! Hehehe…

Lontong complete di Cafe Batu Jimbar - Sanur

Setelah bertemu dan berkenalan dengan Mel Lange, kami ditraktir makan siang disana. Tapi saya jadi tak bisa rakus seperti biasanya (memangnya pernah rakus, Fen?), karena sorotan mata Mel Lange tak lepas dari gerakan tangan saya. Untuk menghilangkan rasa grogi dan malu, saya lebih memilih memperhatikan anjing Cihuahua yang ada di meja seberang, sementara Chriswan dan Mel Lange sibuk bercerita. Saya bisa mengikuti apa yang mereka bicarakan, tapi saya tidak bisa hanyut dalam percakapan mereka. Inggris saya kan pas-pasan, dan saya lebih suka menulis Inggris ketimbang harus mempraktekkannya. Saya jadi ingat waktu awal kali berkenalan dengan bule asal Australia. Saat dia bertanya, “Do you speak English?”, saya menjawab seadanya, “A little little sih i……”. Ups! Apa yang saya katakan barusan? Hahahaha… Inilah efek terlalu bodoh dan ceplas ceplos. Untunglah dia mengerti dan kami masih berhubungan baik melalui email, serta sempat bertemu beberapa kali saat dia ke Bali.

Di akhir pertemuan dengan Mel Lange, saya hanya bisa berkata “Nice to know you…”. Hahahah, jika mengingatnya, saya merasa malu. Sebenarnya bukan itu yang ingin saya katakan. Saya ingin berkata “I’ve just heard the story about your grandfather, Mads Lange, and i think i’d like to write down about him and post it into my blog. Someday i’ll be back here to see you and asking you about this. Is that okay?”. Hmm, sebenarnya tak perlu bahasa inggris ala asal-asalan seperti diatas itu, karena beliau juga berbahasa Indonesia. Oh God, Fenny.. Fenny.. Betapa polosnya dirimu nak…. Hahahaha *i can’t stop laughing*

Dari Sanur, kami melanjutkan perjalanan ke Titiles. Disini, saya memegang ular untuk pertama kalinya. Gara-gara menatap indahnya ikan molly di kolam ikan itu, tangan saya menyentuh si reptil jelek sialan itu. Ternyata tak terlalu menyeramkan. Entah bagaimana bila saya bertemu tokek, akankah ketakukan saya lenyap seketika? Jujur, saya merinding ketakutan bila mendengar suara tokek.

Ikan Molly yang menawan, akhirnya sekarang saya memelihara ikan molly :D

Si reptil jelek

Dari Sanur, kami kembali ke Kuta dan membiarkan Chriswan berkemas. Hari ini dia akan kembali ke Bandung. Akhirnya tugas saya sebagai guide selesai sudah. Pukul 8 saya mengantarnya ke airport dengan kecepatan tinggi. Sesampainya disana, ternyata penerbangannya di delay 30 menit. Setelah check ini, kemudian dia keluar lagi dan mengajak saya memesan minuman di “New Zealand Natural” sambil menunggu boarding.

Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Ada perbedaan ketika saya melepas kepergian Ichanx dan Chriswan kembali ke Bandung. Saya tak begitu merasa sedih ketika Ichanx meninggalkan Bali, karena waktu itu saya sedang sakit dan harus bed rest (baca: opname). Sedangkan Chriswan? Saya mengantarnya ke airport, sampai pesawatnya benar-benar take off. Tangisan perpisahan itu ada, sama seperti ketika saya harus melepas kepergian mama angkat saya ke Jakarta. Rasanya 2 minggu itu berlalu sangat cepat. Tiba-tiba saya merasa kehilangan.

Mungkin juga hal ini dikarenakan selama ini saya selalu berdiam diri di rumah, tiba-tiba 2 minggu ini memiliki kesibukan yang sangat padat. Bahagia, karena ada banyak hal yang bisa saya lakukan. Saya menyukai kegiatan sosial, dimana saya bisa menyumbangan tenaga dan pikiran saya, tanpa perlu berbicara soal uang. I’m gonna miss you! Kuta Karnival, Ubud Writers and Readers Festival, dan semuanya…

Semuanya…

Sedetail mungkin…