18 Oktober 2008
Fieldtrip Kuta Karnival telah usai. Saya segera mencari tumpangan untuk pulang ke rumah. Teriknya mentari siang ini membuat kulit saya hangus terbakar. Saya ingin mandi untuk menghapus keringat yang mengalir di sekujur tubuh saya. Thanks to Mas Hendra yang mau mengantar saya pulang dan menculik saya ke kantor Baliorange. Sebenarnya bukan diculik, tapi saya yang memintanya karena saya harus melanjutkan perjalanan saya ke Ubud sore ini juga. Awalnya saya berencana ke Ubud bersama Mbak Dian Ina, tapi ternyata beliau sibuk bekerja sehingga tak sempat mampir ke Denpasar. Intan yang awalnya berencana menghadiri story telling di Casa Luna juga tiba-tiba membatalkannya. Alasannya: hangover!
Di kantor Baliorange, kami berbincang sejenak tentang persiapan stand BBC di Kuta Karnival. Hari ini belum ada persiapan apapun. Spanduk, jadwal jaga, konsumsi, semua belum dipersiapkan. Namun dengan berat hati terpaksa saya meninggalkan itu semua karena MotorTaxi telah menjemput saya. Saya akan menjadi turis selama seminggu!
Tujuan pertama adalah Ubud. Saya akan tinggal disini untuk beberapa hari demi mengikuti beberapa kegiatan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Saya bertemu dengan banyak orang, termasuk Chriswan, Ita, Erik, Mbak Santi, Mbak Dian, dan lain lain yang tentunya saya lupa. Maaf, memang saya sulit menghafal nama orang (baca: pikun akut). Kegiatan malam ini adalah mengikuti Karnaval di jalan Gootama, tapi sebelum itu kami nongkrong dulu di Nomad sambil berinternet ria.

Nongkrong di “Nomad”
Ternyata Ubud tidak memiliki pesona kehidupan malam. Setelah semua acara selesai, kami kembali dihadapkan pada keheningan malam. Tak ada cafe yang buka, tak ada dentuman musik keras dari tempat clubbing, hanya ada Circle K yang dijadikan tempat nongkrong beberapa pemuda. Ini tentu sangat berbanding terbalik dengan suasana di pagi hari, dimana banyak turis berlalu lalang dan pemandangan sawah yang luas dan indah. Tak ada kesibukan di malam hari, yang ada hanyalah sunyi, gelap, mencekam.
19 Oktober 2008
Hari ini ada pembacaan novel Maryamah Karpov oleh Andrea Hirata. Meskipun bukan penggemar berat, tapi setidaknya saya menyimpan fotonya, barangkali kalian fans setianya… Rupanya novel ini akan diluncurkan bulan November tanpa terganggu oleh kehadiran buku ‘Maryamah Karpov’ yang lain.

Andrea Hirata di salah satu sesi acara UWRF
Seharian saya menghabiskan waktu di Media Center yang berada di Anhera. Mengantuk, mengantuk dan mengantuk akibat angin sepoi-sepoi di ruangan itu. Alhasil saya tertidur beberapa saat sampai akhirnya Chriswan mengajak saya makan siang di Nasi Kadewatan. Thanks atas traktirannya!

Nasi Kadewatan Ibu Mangku - Ubud
Malamnya, saya dan beberapa teman lain menghadiri closing ceremony UWRF di Museum Antonio Blanco. Entah apa yang harus saya ceritakan, karena terlalu banyak memori yang saya kenang selama di Ubud, terutama saat closing ceremony. Yang paling membekas di ingatan saya adalah fire dance dan penampilan memukau Saharadja, band lokal yang mengusung aliran Jazz.




Closing Ceremony UWRF @Antonio Blanco Museum - Ubud
Sesaat setelah closing ceremony, hujan membasahi Ubud. Hujan lebat yang disertai petir ini membuat beberapa dari kami tidak bisa kembali ke penginapan. Sempat melawan hujan, dan berteduh sejenak di salah satu Banjar (entah Banjar apa). Terlalu lama hujan membasahi tempat ini, akhirnya saya memutuskan untuk menerobos hujan sampai ke penginapan. Basah, memang. Tapi entah apa jadinya jika saya menunggu dan menunggu, karena hujan tak kunjung reda hingga pagi tiba.
20 Oktober 2008
Pagi ini saya memutuskan untuk kembali ke Denpasar. Saya tak sendiri, karena Chriswan harus ikut bersama saya. Demi kelancaran dalam perjalanan (baca: tak kelaparan), maka Chriswan mengajak saya makan di Nuri’s Warung, katanya Iga Babi Bakar disana enak. Baiklah, saya ikut. Dan ternyata memang enak! Tapi sayang, perut saya tidak didesain sedemikian rupa sehingga tak bisa menyantap lebih banyak lagi dari porsi yang telah saya perkirakan.

Ini lho iga babinya… Ngiler ga tuh?
Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan ke Denpasar, atau lebih tepatnya ke Kuta. Setelah ini, saya masih memiliki tanggung jawab untuk mengunjungi stand BBC di Kuta Karnival. Hampir 1,5 jam perjalanan yang kami tempuh. Mungkin bisa lebih cepat lagi jika saya yang mengemudi (maaf, sedikit menyinggung gaya menyetirmu yang lucu dan menggemaskan itu). Saya memang orang yang merasa takut jika dibonceng naik motor. Ada trauma kecil di benak saya, ingatan kejadian 10 tahun silam, saat saya mengalami kecelakaan hebat dan hampir membuat saya kehilangan nyawa di jalan raya. Maaf, bukannya saya tak percaya pada kemampuan orang lain…
Selesai sudah perjalanan saya di Ubud. Tak banyak yang saya gali, tapi cukup untuk dijadikan pengalaman pertama. Keheningan Ubud masih bisa saya rasakan, dan tidak mudah untuk dilupakan. Kedamaian ada disana, dan ada cinta juga disana. Bali memang selalu menyisakan cinta dan rindu bagi para pengunjungnya. Suatu saat aku akan kembali, entah kapan…. Ubud i love you!
Hi, namaku Fenny -biasa dipanggil Fenny, Fenfen, Pepen-, lulusan D3 Manajemen Informatika yang saat ini sedang menempuh pendidikan S1 Sistem Komputer di sebuah perguruan tinggi swasta di Denpasar, Bali dan sedang menyusun skripsi. Memiliki hobi tidur dan jalan-jalan, serta penderita penyakit pikun akut yang harus segera ditangani oleh dokter ahli. Selain itu, penulis memiliki kegiatan ga penting lainnya, seperti kopdar, ngeplurk, ngeblog, YMan dan juga merawat 37 hamster kesayangannya. 






wew asiknya
hayo sambil bayangin apa?
saya gak sabar nunggu buku maryamah karpovnya
sabar… dikit lagi tuh :D
firedance-nya ga takut kena api ya?
uda terbiasa latihan, ga takut lagi hihihihi
lapeerrr……….
maaf, aku tak bermaksud hehehe
Asyiknya ketemu andrea hirata…
saya jadi pengen….
dia belum ke madiun ya, mas?
Aku baru sekali menjadi turis di bali.
Hehehe…
yuk kita jadi turis bareng-bareng…
Lah menjadi turis di kampung sendiri. Apa seru nya Fen? yg bikin seru pasti temen temen nya yak
seru kalo jalan-jalan sama temen yang lagi berlibur kesini. soalnya kalo sendirian memang ga ada seru-serunya hehehe….
argh, saya kangen ubud. dan casa luna. dan bali buddha…