18 Oktober 2008

Hari ini adalah jadwal Fieldtrip BBC (Bali Blogger Community) sebagai salah satu agenda Kuta Karnival. Tujuannya adalah untuk flashback sedikit tentang Kuta di masa lalu. Adapun tempat yang kami datangi yaitu Vihara Dharmayana dan Pantai Jerman (Bekas pelabuhan dagang Kuta). Fieldtrip ini diikuti sekitar 14 orang, termasuk beberapa wartawan dan anggota BBC. Sedikit memang, tapi cukup menyenangkan dan menarik.

Pertama, di Vihara Dharmayana, Jl. Blambangan. Kami disambut oleh beberapa pengurus yayasan, termasuk Ketua Umum Yayasan Bp. Hindra Suarlim. Beliau mulai menceritakan awal mula keberadaan Vihara ini, yaitu pada tahun 1876. Pada jaman pemerintahan Soeharto, ruang gerak mereka dipersempit dengan adanya berbagai macam larangan. Namun hal itu tidak mengendurkan eksistensi Vihara Dharmayana di kala itu, mereka justru semakin bangkit dan maju pesat. Dan yang berbeda dari Vihara ini adalah terdapat sebuah Pura di areal Vihara dan uniknya, mereka -Hindu dan Budha- terlibat dalam kegiatan adat di Banjar Suka Duka. Karena usianya mencapai 2 abad, maka kegiatan keagamaan di Vihara ini menjadi perpaduan antara agama Budha dan Hindu, hal ini terlihat jelas dari penggunaan banten dan peralatan sembahyang lainnya yang digunakan di Vihara, termasuk perayaan hari raya Galungan dan Kuningan di Vihara tersebut.

Peserta fieldtrip berpose di Vihara Dharmayana (kecuali fotografer)

Kedua, Pantai Jerman. Pada jaman kerajaan, Kuta disebut sebagai Kuta Mimba alias hutan. Masyarakat Kuta saat itu hanya mengenal 2 mata pencaharian, yaitu bercocok tanam dan bertani (eh tapi apa bedanya ya?), misalnya kelapa, bengkoang, dan tanaman kacang-kacangan lainnya. Kuta menjadi tempat pembuangan orang-orang yang bersalah dan dihukum.

Pada jaman penjajahan Belanda, Kuta dijadikan sebagai pusat perdagangan Bali dengan Singapura, diantaranya candu, barang-barang besi, kain, gambir, senjata api, mesiu, logam buatan China dan barang-barang lainnya buatan Inggris. Ketika pembangunan runway di Bandara Ngurah Rai, para pekerjanya adalah berasal dari Jerman. Mereka menempati kawasan (mess) di sepanjang pesisir pantai, sehingga pantai tersebut dikenal sebagai Pantai Jerman. Ada juga yang menyebutnya sebagai pasih perahu atau laut perahu, karena salah satu perahu pernah tenggelam disana dan kemudian muncul mata air tawar. Sebagai penghormatan dan atas petunjuk Beliau yang berada di Pura Dalem Celuk Waru, maka dibangunlah miniatur perahu disana.

[Miniatur] perahu yang dulu pernah tenggelam

Mads Lange, adalah salah satu orang yang berjasa untuk Bali pada abad ke 16. Beliau menikah dengan gadis keturunan Cina Bali dan memiliki kecintaan terhadap Bali. Beliau pernah membantu Bali untuk melawan Belanda, yaitu dengan membantu supply senjata api. Meskipun Bali tetaplah kalah pada saat itu, namun Beliau tidak berhenti sampai disitu. Lalu Beliau membangun sebuah jalan yang bernama Jl. Tuan Lange, dan disana pula terdapat kompleks makam yang luas. Beliau termasuk salah satu orang yang memperkenalkan dan bercerita tentang Bali kepada banyak orang, hingga akhirnya Bali banyak dikunjungi peselancar dari berbagai negara.

Peserta fieldtrip sesi makan bersama di Pantai Jerman

Jenazah Mads Lange dikubur disana, bersama jenazah beberapa penduduk Cina Bali setempat. Saya dan Chriswan berkesempatan untuk bertemu dengan Mel Lange, salah satu keturunan Mads Lange. Hal ini akan saya ceritakan di bagian lain. Sungguh menarik dan bahkan ini menjadi kenangan yang indah di hati sebagian orang yang mengalaminya pada waktu itu. Jangankan mereka, sayapun merasa berada di Kuta jaman dahulu ketika mendengar cerita dari Pak Budi, guide kami waktu itu.

Peserta fieldtrip mendengarkan penjelasan Bp. Rika dan Bp. Budi

Tahukah Anda bahwa dalam kurun waktu 25 tahun pantai Kuta telah mengalami abrasi sepanjang 500 meter? Tahukah Anda, dimana sisa-sisa sejarah Kuta itu? Tidak ada! Semuanya telah hilang, dan berganti dengan hotel-hotel mewah di sepanjang bibir pantai. Darimanakah kita bisa mendengar cerita tentang sejarah Kuta? Mungkin ada baiknya jika travel agent memasukkan wisata historis ini sebagai salah satu bentuk promosi pariwisata di Bali dan Kuta pada khususnya.