Banyak yang bertanya-tanya, kenapa selama beberapa hari saya menghilang (baca: jarang online plurk, YM dan blog terbengkalai). Tanggal 13-26 Oktober kemarin ada beberapa even yang harus saya kunjungi. Kuta Karnival, Asian Beach Games (ABG), Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), dan Bali Food Festival. Sebenernya masih ada 2 even lagi, yaitu International Bali Taksu Film Festival dan Indonesian Orchid Show. Tapi sayang, saya tak sempat mengunjunginya. Detailnya akan saya ceritakan sedikit demi sedikit. So, don’t miss it, baby!
13 Oktober 2008
Malam ini saya harus berangkat ke airport Ngurah Rai bersama sopir taksi langganan saya, Pak Gede Ardana. Kebetulan ada 2 orang teman yang harus saya jemput malam ini, Chriswan dan Ita. Chriswan adalah salah seorang teman yang saya kenal melalui Dessy, sedangkan Ita adalah teman yang baru saya kenal dari Chriswan. Mereka berdua datang ke Bali sebagai volunteer Ubud Writers and Readers Festival (UWRF).
Pk 20.45 saya tiba di airport dan langsung menunggu di KFC akibat lapar yang menyerang. Tak lama kemudian, Chriswan muncul dengan 3 kotak salju bakar dan sebuah CD OST Laskar Pelangi. I am so thankful, karena memang 2 hal itu yang sedang saya impikan. Kami berbincang sejenak sembari menanti kedatangan Ita, karena penerbangan Chriswan dan Ita berbeda. Setelah Ita tiba, kami bergegas kembali ke taksi dan melanjutkan perjalanan untuk menuju ke Ubud. Kebetulan Pak Gede menawarkan jasanya untuk mengantar kami dengan tarif Bandara - Ubud Rp. 150.000,- PP. Padahal taksi bandara mematok tarif Rp. 195.000,- sekali jalan. Pak Gede is the best! Kemanapun saya pergi, beliaulah selalu bisa mengantar. Ini fotonya….

Waktu kami mengantar Ichanx, a gay from Bandung, jalan-jalan…

Waktu mengantar aku, Nisa, Yusuf dan Gde jalan-jalan di Bedugul (Eh, pantat siapa itu?)
Sesampainya di Ubud (pk 23.00), kami mampir untuk makan sejenak di kawasan Monkey Forest. Warung Cinta adalah tujuan kami. Sementara Chriswan sibuk dengan Samosa dan Yoghurtnya, dan Ita sibuk dengan spaghettinya, saya sibuk dengan perut yang mulai melilit akibat Machiatto dan teh hangat yang saya teguk. Memang, penyakit asam lambung ini selalu mengganggu setiap kali saya menyantap makanan atau minuman yang kecut, asam, pedas, pahit ataupun basi.
Selesai menikmati makan malam di Warung Cinta, kami melanjutkan perjalanan ke Ina Inn untuk mengantar Chriswan. Suasana di Ina Inn cukup gelap dan mencekam. Tapi saya yakin pemandangan ini berubah menjadi indah di pagi hari, karena di depan kamar kita dihadapkan dengan hamparan sawah yang luas. Sungguh indah.
Jujur, saya tertarik dengan lotus yang ada di depan kamar itu. Tapi kata Bli Wayan, pengurus penginapan itu, saya tidak boleh mengambilnya. Hmm, dia tidak mengatakannya secara langsung, tapi dia tidak menjawab ketika saya bertanya apa saya boleh memintanya. :( But thanks to Chriswan yang sudah mengambilnya untuk saya, meski cuma berupa foto…

Lotus yang membuatku jatuh cinta

Pemandangan dari depan kamar Ina Inn

Paving di sepanjang Jl. Bisma - Ubud
Saat saya dan Ita kembali ke taksi, sejenak kami diam dalam hening. Suasana magis yang kami berdua rasakan tadi rasanya begitu melekat hingga kami berada di dalam taksi itu. Sudah hampir satu menit sejak saya duduk di dalam taksi ini, tapi kenapa Pak Gede belum menyalakan mesinnya? Saya berpikir untuk mengingatkan Pak Gede akan hal ini. Baru saja saya mengangkat kepala saya dan menoleh ke arah Pak Gede, betapa terkejutnya saya! Saya tak dapat memendamnya lagi, dan sayapun berteriak, diiringi teriakan Ita. Teriakan ini sama persis ketika saya mendengar suara tokek pertama kali. Hahaha… Sesaat kami tertawa, meninggalkan Pak Gede sendirian dalam kebingungannya. “Ada apa, Dik?”, tanyanya. Sayapun menjawab dengan diiringi tawa “Bapak itu tadi nakutinnnn, saya kira hantu”. Ita melanjutkan, “Iya pak, kita tuh lagi ngomongin yang berbau magis, eh tiba-tiba Bapak melotot begitu. Kan kaget”. Kami bertiga tertawa kencang, menertawakan kebodohan kami. Rupanya tadi Pak Gede sedang berusaha menutup kaca jendela di sisi kiri, tapi kami menangkapnya sedang melotot dan matanya berbinar laksana iblis yang siap menerkam musuhnya, dua malaikat manis ini.
Setelah itu, saya mengantar Ita ke Wena Homestay, tempatnya menginap. Disini terang, tidak mencekam sehingga saya memutuskan untuk mengantarnya ke dalam sendirian. Tapi tak ada pemandangan bagus di penginapan ini. Akhirnya saya dan Pak Gede kembali menyusuri kegelapan yang mencekam ini untuk kembali ke Denpasar. Takut? Tentu saja. Mungkin karena itulah Pak Gede memperbolehkan saya numpang pulang ke Denpasar gratis, rupanya beliau takut pulang sendirian. Hehehe…
Baru kali ini saya menjelajah Ubud di tengah malam. Biasanya saya melakukannya jika kakak saya mengajak saya untuk mengontrol ke tokonya yang di Peliatan - Ubud, dan itu di pagi - sore hari, bukan tengah malam begini. Tapi rasanya saya jadi tertarik untuk menggalinya lebih dalam lagi, maksud saya tentang Ubud. Ubud, i’ll coming soon!!
14 Oktober 2008
Hari ini Chriswan ke Denpasar untuk meminjam motor saya. Dia merasakan penat dan lelahnya mengayuh sepeda di Ubud. Coba saja bayangkan, di Ubud terdapat beberapa tanjakan yang lumayan melelahkan, apalagi jalur itu harus dilewati berkali-kali setiap harinya. Akhirnya dengan bermodal nekat, Chriswan menuju ke rumah saya.
Tapi ternyata dia takut untuk kembali ke Ubud sendirian di sore itu. Tak cukup sampai disitu, ternyata dia juga belum fasih mengendarai motor. Alhasil saya antar dia ke Ubud dengan mengendarai sepeda motor kesayangan saya, dan saya percayakan motor itu sepenuhnya di tangannya. Sebelumnya, saya mengajaknya singgah di Warung Babi Guling “Gemah Ripah”, karena menurut saya, warung inilah yang menjual nasi babi guling ternikmat!

Nasi Babi Guling “Gemah Ripah”
Setelah itu, kami mulai menyusuri jalanan Ubud. Sedikit salah arah memang, tapi kami bisa mencapai Ubud tanpa hambatan berarti. Hanya saja merasa sedikit kesulitan saat mencari Sagitarius Inn di kawasan Monkey Forest. Saya benar-benar buta tentang Ubud! Alhasil kami sempat nyasar sekian kilometer dan cukup membuat pantat saya berubah menjadi pizza crispy.
Sesampainya mengantar Chriswan, sayapun kebingungan. Awalnya saya janji akan menelpon mama apabila saya mau berangkat ke Ubud agar sopir bisa menjemput saya disana. Tapi saya lupa! Saya tanya pihak hotel, taksi untuk ke Denpasar mematok biaya sekitar 175 ribu rupiah. Saya memutuskan untuk mencari taksi Ngurah Rai yang posisinya di Ubud dan akan kembali ke Denpasar. Waktu itu saya menelpon Pak Gede *lagi*. Ternyata Pak Gede bilang tidak ada taksi yang beroperasi di sekitar Ubud selarut ini. Kemudian Pak Gede menawarkan jasanya untuk menjemput saya, dengan catatan saya harus bersabar menunggu. Ya Tuhan, lagi-lagi Pak Gede yang membantu saya… Thanks so much, Pak! Akhirnya saya bisa kembali ke Denpasar… Hey, i’ll come again, Ubud!







“a gay from bandung”???????????????? pidnaaahhh!!!!!!!!!!!!!!!
jadinya pedofil?
Wah, Ichanx ceritanya dijamu blogger Bali nih, Mantab….
Forest Monkey tuh Sangeh ya Mbak? Mana itu warung Cinta, waktu kesana dulu saya gak nemu yang namanya warung cinta….
Monkey Forest itu di Ubud, bukan Sangeh. Dan Warung Cinta itu ya di Monkey Forest sana…
jadi bukan gay toh? lah terus yang dibalangan itu?
*nyungsep lagee
Hey, Ichanx dan Chriswan itu 2 orang yang berbeda lho… Yang di Balangan itu namanya Chriswan. Yang foto diatas itu Ichanx
*gosok2 tangan* ada postingan tentang keisengan si chriswan ga?
ga ada buuuu hahahaha
tambahan… jadi si chriswan blm lancar nyetir motor? wkwkwkwkwkwkwk… sama dunnnnk…
uda mayan buuu, ntar kapan2 harus dilatih lagi hahahaha
hai hai!
warung cinta seblah mana si monkey forestnya? deket ke arah monkey forest atau pasar ubud? thanks!
saya akan ke ubud writers and readers fest tahun ini. bingung juga, krn terakhir kali ke bali pas sma. skrg udah kerja sbg wartawan di jakarta globe. kayaknya perlu juga nih punya taksi langganan. boleh gak saya dihubungkan dengan pak gde?
wah..wah… ada ichanx ternyata disini…salut ama ichanx euy!
fotonya aku minta pen..buat kenang2an…hihihi..
Allo :) salam, ketemu blog ini sewaktu nge-google “tarif bandara ke Ubud”. Bakal liburan ke Ubud bulan ini, boleh tolong minta nomor telp Pak Gede yg helpful itu? Trims yah.
jadi bukan gay toh? lah terus yang dibalangan itu?
emssss….. kolmi ku donk ke no ni 082115708173

so you can carry in hand to attend a number of parties
Thanks very a lot for this flawless publish;that is the words that retains me on monitor by means of out the day. I have been wanting round in your website after I heard about them from a buddy and was thrilled once I was capable of finding it after looking for lengthy time. Being a avid blogger, I’m glad to see others taking initivative and contributing to the community. Just wished to comment to show my appreciation in your website as it is vitally challenging to do, and lots of writers do not get credit they deserve. I’m certain I’ll go to again and can spread the word to my friends.
Mas, boleh minta nomer kontaknya Pak Gede itu? Saya ada rencana ke Ubud nih, tapi liet2 di internet ko harga sewa mobil plus pengemudinya lumayan juga yak hehehe… Makasih sebelumnya…
Permisi…
salam kenal…
kalo boleh, saya minta nomor telpon Bpk. Gede untuk membantu saya ke Ubud bulan oktober 2011 ini…..Makasi sebelumnya ya…mohon jawabannya
@Imelda: bisa coba hubungi di 08164737350, bilang aja dapet nomernya dr Fenny :)
Thanks for sharing Menjadi Turis (Bag. I): Airport - Ubud
:
.:. F u n k y L o v e .:. with us keep update bro love your article about Menjadi Turis (Bag. I): Airport - Ubud
:
.:. F u n k y L o v e .:. .