Pada tahun 1970 an, rambut gondrong sempat menjadi permasalahan yang cukup serius di Indonesia. Mereka yang berambut gondrong tidak diperbolehkan mengurus surat identitas (SIM, KTP) maupun surat bebas G30S/PKI dari pihak kepolisian. Bahkan salah seorang mahasiswa ITB, Rene Coenraad, harus mati tertembak polisi ketika bentrok dengan taruna Akademi Kepolisian dan Brimob pada 6 Oktober 1970 (Sumber: disini)

Bagi sebagian orang, pria yang memiliki rambut gondrong adalah pria sangar yang jauh dari kesopanan, kebaikan dan bahkan jauh dari ilmu (baca: bodoh). Preman, perampok, pemerkosa, penculik, semuanya adalah stereotip pria berambut gondrong. Rambut yang seperti apa sih yang dikategorikan gondrong? Rambut yang menjuntai hingga di bawah kerah baju? Atau rambut yang menutupi telinga? Rambut yang panjang dan tidak terawat? Menurut saya, rambut dikatakan gondrong apabila telah melewati batas kerah baju, baik terawat maupun tidak. Baik yang berkutu maupun tidak.

Lalu, kenapa saya ingin membahas tentang si rambut gondrong? Entahlah, ide ini tiba-tiba terlintas di pikiran saya. Tanpa saya sadari, saya banyak dikelilingi oleh pria berambut gondrong. Dulu waktu kuliah, saya memiliki 3 teman yang rambutnya gondrong, sebut saja Amin, Mugo, dan Insya. Amin memanjangkan rambutnya demi penampilan panggungnya. Mugo, memanjangkan rambut selama jomblo dan belum lulus kuliah.Sedangkan Insya memanjangkan rambutnya setelah ditinggal oleh tunangannya. Setelah 5 tahun tak bertemu, ternyata hanya Mugo yang memangkas rambutnya. Ketika ditanya, Mugo hanya menjawab “Aku akhirnya bisa lulus dan menikah”. Baiklah, alasan yang cukup unik.

Kemudian, ada lagi 2 orang teman yang suka memanjangkan rambutnya. Sebut saja mereka Dino dan Doni. Mereka berdua beralasan bahwa rambutnya adalah mahkotanya. Bukan hanya wanita yang memiliki mahkota, pria pun menganggap bhwa rambut adalah mahkotanya. Oke, saya akui rambut mereka begitu halus dan indah, lebih indah ketimbang rambut pria yang menjadi model iklan shampoo Clear maupun Head & Shoulder itu. Tapi yang membuat saya geli adalah alasannya. Mereka ini orang-orang yang jago design dan hobi surfing. Tapi akhirnya Doni memangkas rambutnya dengan alasan tuntutan pekerjaan.

Terakhir, ada 2 orang yang baru saya kenal dan ternyata berambut gondrong juga. Sebut saja Bekti dan Bona. Bekti adalah alumni salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, sedangkan Bona adalah seorang internet marketer dan pakar SEO yang cukup memiliki prestasi. Bekti berkata bahwa ia akan terus memanjangkan rambutnya selama masih ada orang yang menyuruhnya untuk memotong rambut atau selama orang-orang masih berpikiran bahwa pria gondrong itu bukan pria baik-baik. Sedangkan Bona, entahlah… Saya belum bertanya tentang alasannya.

Ternyata 7 teman saya ini memiliki alasan yang berbeda-beda tentang rambut gondrongnya. Bagi saya pribadi, rambut gondrong bukanlah masalah. Don’t judge a book by its cover, right? Terlalu awam untuk menilai seseorang hanya dari kegondrongannya. Lihatlah para pejabat yang memalsukan ijazahnya dan melakukan tindak korupsi, apakah mereka gondrong? Lihatlah di berbagai media cetak dan elektronik, berapa banyak pria gondrong yang mampu mengukir prestasi dan mencapai sebuah kesuksesan?

Sifat baik atau buruknya seseorang tidak dapat dinilai dari rambutnya. Masih banyak hal yang harus kita lalui untuk menilai seseorang, bukan dengan cara sekilas memandang rambutnya. Iseng-iseng saya bertanya via Plurk, “Bagaimana pendapat kalian tentang pria berambut gondrong?”. Dari beberapa respon yang masuk, ada Marbun yang sependapat dengan saya, katanya “no problem… Yg penting gak kutuan apalagi kecoak-an rambutnya”. Darknessdevilgirl, Adit dan Arie berpendapat selama pantas dan pas, it’s oke. Sementara Dita dan Putri mengatakan bahwa hanya orang-orang cakep yang pantas berambut gondrong, seperti Johny Depp misalnya. Sedangkan Pak Marsudiyanto kurang menyukai pria berambut gondrong. Wah alasannya apa ya, Pak?

Mungkin memang media televisi harus mengurangi tontonan yang menggambarkan preman sebagai pria gondrong bertatoo dengan menggunakan celana robek dan kostum ala koboinya itu. Mungkin pria-pria gondrong di Indonesia ini bisa lebih menunjukkan keberhasilannya sehingga stereotip yang telah medarah daging selama ini bisa bergeser menjadi lebih baik lagi. Bagaimana dengan kamu? Rambutmu gondong? Kenapa rambutmu gondrong?