Tiba-tiba aku terbangun dari mimpiku, dan aku sadar bahwa air mataku mengalir. Setelah sekian lama terbangun, aku belum dapat mengingat sedetikpun tentang mimpiku. Akupun bertanya-tanya dalam hati, “mimpi apakah aku semalam hingga membuatku menitikkan air mata?”. Dalam diam aku berteriak, dalam gelap aku berjalan, menyusuri alam mimpiku. Tapi tak ada satupun jejak-jejak mimpiku. Akupun mulai merasa tersesat dalam sebuah fatamorgana. “Dimanakah aku semalam menitipkan bunga tidurku? Mengapa semuanya sirna begitu saja tanpa memberiku kesempatan mengingatnya sedetikpun?”, batinku.

Aku semakin tak percaya bahwa mimpi sekedar bunga tidur. Tidak! Ada keajaiban pada tiap-tiap kehadiran mimpi itu. Aku tidak percaya bahwa mimpi itu ada karena pikiran-pikiran sadarku. Aku menganggap bahwa mimpi adalah sebuah keajaiban yang telah Tuhan ciptakan, sehingga aku tetap dapat merasakan hembusan nafas kehidupan, serta segala perih, pedih, luka, bahagia, canda, tawa dan angan-angan. Mimpi adalah sebuah kehidupan! Kehidupan yang berada nun jauh disana, yang tanpa pernah aku sadari bahwa itu ada. Aku tersenyum. Aku tersenyum kepada Tuhan yang telah menciptakan mimpi itu. Dan akupun meneriakkan segala puji syukurku atas segala yang Ia berikan untukku.

Aku tak peduli semalam telah menangis dalam mimpiku. Aku tak peduli karena tidak sanggup mengingat detail mimpi itu, tapi aku peduli akan keajaiban mimpi. Aku yakin akan ada keajaiban-keajaiban lain dalam mimpiku esok, dan akan kutunggu semuanya dengan senyuman yang indah. Aku yakin itu…