Dua tahun sudah sejak aku berpisah dengan Ade, sahabatku sejak kecil. Dulu kami bertetangga, hingga akhirnya Ade dan keluarganya pindah ke Semarang ketika kami menginjak kelas 2 SMA. Sekarang aku sudah berkuliah, tanpa pernah mendengar sedikitpun kabar tentang Ade dan keluarganya.
Masih kuingat, dulu, Ade selalu membantuku mengerjakan tugas-tugas sekolah, bahkan beberapa kali memberiku contekan ketika ulangan umum tiba. Ade tak jemu-jemu memuji penampilanku.

“Kamu itu sebenernya cantik, kamu pandai bergaul, banyak temen, tapi sayang kamu selalu gonta-ganti pacar”

Ade tahu bahwa aku seorang player, yang suka bergonta-ganti pacar. Entah kenapa Ade masih saja betah menjadi sahabatku. Perhatiannya juga tak pernah memudar. Aku benar-benar merindukannya.

Ade pernah menangkap basah ketika aku asik bercumbu dengan seorang pria di kelas. Saat itu Ade langsung pergi, meninggalkanku dengan raut wajah penuh amarah. Aku megejarnya hingga ke warung Bu ‘Nah, ibu kantin yang tinggal di halaman sekolah kami. Aku takut untuk berbicara. Di saat seperti ini biasanya Ade tak ingin diajak bicara.

“Kamu boleh gonta-ganti pacar, tapi ngga untuk ngelakuin hal itu! Apalagi yang lebih dari itu! Aku harap kamu belum ngelakuin hal-hal yang belum waktunya”,
ucapnya dengan nada tingi.

“Ade, maafin aku. Aku bukannya mau nyakitin kamu atau ngerusak diriku sendiri. Aku rasa itu biasa dilakuin pasangan yang lagi pacaran”

“Hari ini kamu nyium dia, besok dia ngeraba kamu, dan lusa dia bakal merenggut keperawananmu. Aku tau apa yang ada di otak para pria! Itu yang kamu mau?!”


Aku menamparnya. Cukup keras.

Tanpa kusadari, itu adalah hari terakhirku bertemu Ade. Esoknya, hanya sepucuk surat yang kuterima. Mbok Sri bilang, itu dari Ade. Segera kubuka amplopnya dan kubaca surat yang cukup singkat itu.

Aku pergi, maafin aku kalo selama ini egois dan terlalu ngatur kehidupanmu. Itu kulakuin karena aku sayang kamu. Aku akan balik, setelah nanti lulus SMU.

With love, Ade.

Aku terdiam. Air mata membanjiri sungai pipiku. Kamu tidak pernah egois, De. Jutsru aku yang egois, memanfaatkan hati para pria untuk mencintaiku, sedangkan aku hanya mempermainkan mereka. Kamu yang selalu mengingatkanku, tapi aku tak pernah mendengar ocehanmu. Aku minta maaf, De.

Tiba-tiba suara Bik Yani, pembantu baruku, membuyarkan lamunanku. Rupanya Bik Yani sudah berkali-kali mencoba mengetuk pintu kamarku.

“Non, ada tamu di luar. Katanya nyari Non”

“Siapa, Bik?”, tanyaku

“Ndak tau saya non. Katanya sih temen SMA nya Non”

Segera aku beranjak dari tempat tidur. Sambil diliputi rasa penasaran, aku mengintip siapa yang ada di balik pintu rumahku itu.

Badannya tinggi, ceking, kulitnya sawo matang, rambutnya cepak. Dia menggunakan kaos oblong, celana jeans dan sepatu sport yang sedikit kumal.

“Siapa ya?”, tanyaku penasaran.

Seketika ia membalikkan badannya dan tersenyum. Aku kaget setengah mati. Dia masih tampak sama seperti 2 tahun yang lalu. Hanya penampilannya yang sedikit berubah.

“Ade? Kapan kamu dateng?”

Tak ada jawaban. Hanya ada pelukan.

“Aku sayang kamu. Aku mau kamu jadi pacarku”, ungkapnya tiba-tiba

“Ade, kamu itu dulu cantik. Tapi sekarang kamu… keren. Aku uda lama nunggu kamu balik. Aku juga sayang kamu, De”

Aku mencintai Ade, aku tak peduli meski Bik Yani mendengar percakapan kami. Selamanya aku akan tetap mencintainya. Meskipun aku sadar bahwa suatu saat aku harus menikahi seorang pria, bukan seorang wanita seperti Ade. I will always love you, De…

–Dedicated for someone