Satu hal yang selalu aku takutkan adalah kesehatan. Tapi itu bukan berarti aku menjaga pola hidupku dengan baik agar aku selalu sehat. Aku tetaplah aku 18 tahun yang lalu, Fenny yang sekarat, lemah tak berdaya di Rumah Sakit selama 3 bulan melawan penyakit yang kritis namun tetap keras kepala dalam hal makanan. Dokter bilang, aku hanya boleh menyantap makanan dari Rumah Sakit, tapi aku tetaplah menginginkan pudding yang dijual di pasar tradisional, atau ‘paha ayam’ yang dijual di depan sekolahku, dan bahkan aku selalu meminta coklat serta permen setiap hari.

Aku masih ingat, 3 bulan itu waktu yang terlampau lama untuk berdiam diri di Rumah Sakit, apalagi keadaanku yang lemah dan harus menggunakan kursi roda. Aku bukan cacat, tapi penyakit itu sungguh-sungguh telah merenggut kebahagiaan dan masa kecilku. Penyakit itu sungguh-sungguh telah meluluhlantakkan harapan seorang bocah SD kelas 2 yang senang bermain, berlari, menari dan bermain angklung.

Berat badanku yang terlalu kurus tiba-tiba menjadi kuat bak penuh tenaga ketika dokter berusaha menyuntikku. Dan bisa dibayangkan, tangan dan kakiku harus diikat agar tak lagi berontak. Itu bukan yang pertama kalinya… Mama bilang, aku juga pernah melakukannya ketika umurku baru 2 tahun. Ah, ternyata aku ini hebat, meskipun aku anak yang lemah tapi justru kelemahan itu menjadi titik kekuatanku. Tapi tentunya mamaku sama sekali tidak membanggakan hal ini, mama justru menangis dan sedih. Aku ingat waktu itu, mama menyuruhku menelan sesuap bubur tapi aku tidak mengindahkannya, justru aku meminta pudding pasar. Dengan menangis, mama pergi dan kembali membawa pudding yang aku minta yang tanpa kusadari itu hanyalah pudding buatan tanteku yang dibuat semirip mungkin bentuknya dengan pudding pasar.

Waktu itu dokter bilang “dia sudah kesulitan bernafas, Bu. Saya tidak berani jamin keselamatannya karena detak jantungnya sudah sangat lemah. Anak ibu harus segera dibawa ke Rumah Sakit di Surabaya”. Seketika itu juga, mama tanpa papa menangis sejadi-jadinya sambil membelai dadaku dan terus berusaha menyuapiku dengan sesendok pudding.

Itu cerita lalu… Cerita lalu yang harusnya menjadi kenangan indah karena Tuhan telah menyelamatkan hidupku setelah 3 bulan berjuang dengan penyakit itu. Sekarang? Ya sekarang masa itu akan terulang kembali. Dan itulah mengapa aku tidak pernah setuju apabila mama menyuruhku melakukan general check up. Aku tak ingin mengulang masa-masa itu, tak ingin mengetahui penyakit apa yang sedang menderaku. Ah, asuransi ini memang bajingan! Kenapa harus check up? Kenapa harus dijadwalkan tiba-tiba tanpa persetujuanku?

Aku benci dengan hari-hariku, dan aku benci dengan perusahaan asuransi ini. Seandainya Tuhan mendengar dan mau mengabulkan doaku, aku hanya ingin kesehatan hingga aku tua nanti.

Aku akan belajar mengatur pola hidupku, Tuhan… Aku berserah padaMu, karna aku hanyalah hambaMu yang lemah…