Inilah buntut dari kekesalan dan kecewaan saya terhadap Pro XL, salah satu provider monyet GSM Indonesia. Masih jelas di ingatan saya, pada tahun 2000 an Pro XL merupakan produk telekomunikasi yang tarifnya paling mahal se-Indonesia. Meskipun tarif Pro XL sekarang tetaplah mahal, tapi ia punya segudang promosi. Dimulai dari bebas bicara selama 17 jam sehari, SMS gratis, dan lain sebagainya.
Dampaknya? Awalnya saya tidak terlalu memikirkan dampak dari promo Pro XL ini. Dalam seminggu, saya bisa menerima 5 panggilan atau SMS yang tidak dikenal, yang intinya mengajak kenalan. Tapi apa yang terjadi 3 hari belakangan ini sungguh mengesalkan. Ada satu pengguna provider monyet ini yang melakukan serangan di tengah malam. Awalnya tidak saya hiraukan, namun karena siangnya menelpon kembali, akhirnya saya angkat panggilan itu. Pikiran saya adalah, penelpon memiliki urusan penting. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Lagi-lagi, si penelpon hanya minta berkenalan! Malah awalnya mengaku salah sambung. Dan dia tak hanya berhenti di sana. Hingga panggilan keempat, akhirnya saya angkat dan saya biarkan HP saya dalam posisi Loud Speaker. Monyet-monyet silakan baca kelanjutannya…
Sebelum saya bercerita lebih lanjut, mungkin ada yang belum tau apa itu bandages? Jadi, bandages itu yang biasa untuk menutupi luka, misalnya handyplast, tensoplast, hansaplast.
-oOo-
Sepulang dari malam mingguan, kami mampir ke sebuah minimarket yang buka 24 jam nonstop tapi memiliki lubang kunci. Niat saya adalah membeli bandages untuk menutupi luka di jari telunjuk akibat patahnya kuku hingga menjorok ke bagian dalam. Bandages yang saya cari adalah hansaplast, tapi sayangnya disana hanya ada satu merk, yaitu Nexcare.

Nexcare itu…
*Keseringan kedatangan tamu blogger ke Bali, postingan saya mendadak berubah seperti infotainment atau ‘Nikmatnya dunia’ yang dibawakan oleh Fauzi Baadilah itu*
Rabu, 10 Desember 2008
Kedatangan tamu blogger Jakarta ini tak lebih menyusahkan ketika Ichanx atau Chriswan datang. (Kedatangan Ichanx hanya saya posting menjadi 2 - 3 bagian, sedangkan kedatangan Chriswan hingga 6 bagian). Jadi saya bisa lebih santai mengantarkan beliau (baca: Imansyah) *nasib jadi guide BBC, pengangguran sendiri*
Hari kedua, saya bertugas mengantarkannya ke Ubud. Kemarin kami (Arie, Yanuar, Dian Ina, saya, Ikke dan Imansyah) sepakat untuk menghadiri anniversary Jazz Cafe di Ubud. Rencana awal adalah, Arie menjemput Imansyah di Kuta, lalu berkumpul di markas BBC. Tapi karena motor Arie dipinjam sang adik, rencana berubah. Ikke menjemput Imansyah di Kuta, lalu berkumpul di markas BBC. Lagi-lagi, Ikke belum bisa keluar kantor hingga pukul 6 sore, karena diskusi yang alot di kantornya. Itu artinya, *arghhhhhhhh* saya harus menjemput Imansyah di Kuta, lalu memboyongnya ke markas BBC. Tapi ternyata beliau yang ke rumah saya dengan penuh pengertian *heheheh* Read the rest of this entry »
Saya memang tak mengundang dia. Lha wong tiba-tiba di plurknya bilang bahwa beliau sedang menanti keberangkatan pesawatnya menuju Bali. Walah walah… Imansyah mau ke Bali! Setelah saya cermati berulang kali *maklum, daya ingat saya lemah alias pikun akut*. Pertama, saya agak susah mengingat wajah antara Imansyah dan Isman. Yang kedua, saya bahkan lupa Imansyah ini siapa. Tak ada sedikitpun bayangan tentang siapa Imansyah, saya hanya ingat bahwa kami pernah kopdar sewaktu di Jakarta.
Yang fakir benwit ati-ati….
Hari kedua di Jogja, saya mulai menyusuri Pantai Parangtritis. Rupanya Paris sekarang berganti nama menjadi “Parangtritis Baru”. Ada renovasi di beberapa bagian. Efek tsunami barangkali… *kalo ndak ada tsunami, ya ndak direnovasi*. Disini agak mendung, tapi untunglah belum turun hujan. Banyak hal yang saya temui. Mulai dari manusia berpacaran (entah yang muda dengan yang muda, ataupun yang tua dengan yang muda), sedikit bule berkeliaran, sebagian memilih untuk duduk di pinggir pantai, bermain-main dengan ombak, dan ada juga yang naik andong. Saya sudah pernah merasakan naik andong. Ngeri, tapi lucu. Hehehe…

Foto-foto lainnya…
Filed under:
Tempat Wisata
Jumat, 5 Desember kemarin saya mulai meninggalkan kota Bandung. Sewaktu menanti keberangkatan X-Trans, saya dan salah seorang teman saya menyempatkan diri untuk memesan mie goreng. Tak disangka tak diduga, yang datang adalah mie goreng dicampur air (kuah). Tak terbayangkan rasanya yang begitu aneh dan sedikit menggelikan. Ketika ditanya, si penjual hanya menjawab “mie goreng ya gitu itu. kadang dicampur air, kadang ga”. *Ya ampun, Bang… Sekalian aja direbus, dicincang dan digoreng!!!* Selebihnya…
Bolt -seekor anjing German Shepherd berbulu putih atau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Herder- adalah pemeran utama sebuah serial televisi berjudul “Bolt”. Sehari-harinya berperan sebagai anjing yang memiliki kekuatan super untuk melindungi majikannya, Penny. Seumur hidupnya, Bolt mengira bahwa kekuatan yang dimilikinya adalah real.
Hal itulah yang mendasarinya untuk kabur dari lokasi syuting demi menyelamatkan Penny yang diculik dan disekap oleh segerombolan penjahat. Perjalanan Bolt dimulai ketika ia tersesat di New York dan bertemu dengan Mitten, seekor kucing hitam yang ia kira adalah musuh besarnya. Bersama Mitten, ia berusaha menemukan tempat persembunyian Penny. Ketika menyadari bahwa Bolt menganggap dirinya adalah superdog, maka Penny berusaha meyakinkan Bolt bahwa kekuatannya hanyalah akting. Tapi ada seekor hamster, Rhino, yang begitu terobsesi dengan Bolt, terus berusaha meyakinkan bahwa Bolt adalah superdog dan bahkan Rhino rela menemani Bolt berpetualang untuk menyelamatkan Penny.
Selanjutnya
Akhirnya film Twilight rilis! Tak mau membuang banyak waktu, saya langsung menuju ke Ciwalk XXI untuk menontonnya. Saya ingin membandingkan antara novel dan filmnya, apa berbeda seperti “The Golden Compass”?
Berawal dari kepindahan Bella Swan (Kristen Stewart) ke sebuah kota kecil Forks, Washington, untuk tinggal bersama ayahnya sementara waktu. Di sekolah barunya, Bella bertemu dengan Edward Cullen (Robert Pattison) yang ternyata adalah vampir berusia 90 tahunan. Meskipun Bella menyadari bahwa Edward adalah vampir, namun ia tetap mencintai dan ingin hidup bersama Edward.
Baca terus
Tujuh sutradara…
Enam cerita…
Satu jeritan…
Kalimat diatas merupakan tagline film pembuka ajang iNAFF 2008 di Jakarta pada 14 November lalu. Tapi saya baru bisa menikmatinya di Bandung pada awal Desember ini.
Dimulai dari “Show Unit” film karya Rako Prijanto yang dibintangi oleh Marcella Zalianty dan Lukman Shardi. Bercerita tentang Bayu (Lukman Shardi) yang mencurigai kehadiran perampok di rumahnya, namun secara tidak sengaja membunuh anak tirinya, Shira. Kematian Shira terungkap oleh ayah kandung Shira yang akhirnya ikut dibunuh oleh Bayu. Namun dalam cerita ini, yang melakukan teror terhadap Bayu bukanlah hantu, melainkan seseorang yang menyaksikan perbuatan Bayu. So, this is not a horror movie. This is just a thriller movie! Not so good lah ya…
Selanjutnya
Acara BBY seharusnya dimulai pukul 7.30 pagi, namun ternyata banyak yang datang terlambat -dan tentu saja bisa dimaklumi adanya- sehingga akhirnya tertunda hampir satu jam. Entah siapa saja yang hadir, saya tak ingat. Seingat saya ada Nengthree disana, tapi kenapa beliau tak menyapa saya? Bila berkenan, silakan kalian mengisi komentar disini sehingga saya tau siapa yang hadir di acara BBY kemarin…

Setelah bebersih dan pembagian doorprize
Kali ini postingannya tak raib