Usia BabyDJ masih 11 bulan saat aku mendapati hasil testpack positif. Aku hamil lagi! Seketika perasaanku campur aduk antara senang dan kuatir. Aku memang ingin memiliki anak perempuan, tapi mengingat usia BabyDJ yang belum 2 tahun, aku jadi sangsi. Sekecil ini dia sudah harus memikul tanggung jawab sebagai kakak. But life must go on kan, yah?

Kehamilan kali ini kujalani jauh lebih santai ketimbang kehamilan pertama dulu. Mual muntah sudah biasa, tapi aku masih bisa beraktifitas seperti biasa sampai akhirnya kehamilanku menginjak trisemester ke-2. Kala itu aku merasakan nyeri dan ngilu di sekitar msV. Rasanya seperti sedang menjalani kehamilan 38 minggu. Ya, aku merasa kepala bayi sudah memasuki rongga panggul. Nyeri ketika buang air kecil juga kurasakan, hingga akhirnya aku BBM ke obgynku dan Beliau menyarankan untuk tes urine. Kebetulan, aku juga ingin mengetahui apa ada protein dalam urine, mengingat riwayat preeklampsia pada kehamilan pertamaku.

Read the rest of this entry »

Ah, sekarang saatnya menceritakan tumbuh kembangnya Daniel yang aku kasih nickname BabyDJ. Kalau di rumah, Daniel dipanggil `sinyo`  yang artinya adik laki-laki. Kenapa? Karena dia anak laki-laki termuda di keluarga kami untuk saat ini. Nanti, ketika dia siap untuk memiliki adik, baru deh mulai dipanggil kakak.

Tanggal 28 Agustus 2011, atau 2 hari pasca kelahirannya, BabyDJ sudah bisa dibawa pulang ke rumah. Kata suami dan orangtuaku, anak kami lincah sekali. Sesaat setelah kelahirannya, tangan dan kakinya selalu bergerak sampai-sampai sarung kakinya sering lepas :)

Read the rest of this entry »

Seringkali kita membaca timeline di Facebook, Twitter, Plurk, atau bahkan postingan blog yang isinya tidak sedap dibaca. Misalnya, pertengkaran dengan pacar/suami/istri, amarah, protes terhadap ortu/mertua/menantu bahkan para menteri/presiden, atau kasus sepele seperti keluhan suatu produk tertentu. Pada beberapa kasus, keluhan tersebut berguna untuk peningkatan kualitas produk, tapi tidak menutup kemungkinan justru malah membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Misalnya, kita mengeluhkan sinyal/layanan sebuah provider, buruknya kualitas suatu produk makanan, atau buruknya pelayanan di sebuah rumah makan. Hal ini bisa menjadi masukan untuk (calon/)pelanggan maupun kepada instansi yang terkait. Sebuah judgement yang adil, adalah dengan menyertakan link instansi terkait, agar terlihat bahwa keluhan kita bisa dipertanggungjawabkan.
Tapi sayangnya, ada sebagian dari kita yang seluruh timelinenya dipenuhi dengan keluhan dan bahkan umpatan. Contohnya di timeline plurk, twitter maupun status Facebook, ada beberapa teman yang selalu mengeluh, protes, dan mengumpat. Sasarannya tentulah seseorang yang menurutnya menyebalkan/mengesalkan. Misalnya, mengeluhkan sikap pacar yang kurang romantis, atau malah berantem di jejaring sosial. Yang lebih krusial lagi adalah ketika seseorang memblow-up masalah internal keluarganya. Berantem ama suami, berantem ama mama/papa, berantem ama mertua/menantu, yang selalu disertai dengan sindiran, umpatan, atau makian.
Tahukah kalian, bahwa jejaring sosial itu memiliki resiko tinggi? Sekalipun tingkat privasinya sudah maksimal, tentu kemungkinan tersebar luas masih banyak. Koleksi foto pribadi Mark Zuckerberg dan pacarnya aja bisa tersebar luas, apalagi kita yang hanya pengguna ecek-ecek. Twitter yang sudah privatepun masih bisa di RT oleh follower kita (ada beberapa aplikasi yang masih bolong urusan ini).
Trus, gimana kalo keluhan/umpatan kita itu sampai terbaca oleh anggota keluarga yang lain? Apa kita sebagai pemilik status harus merasa bangga karena mampu ‘menikam’? Sebagai pengguna jejaring sosial, tentulah kita harus mengerti resiko-resiko yang ada. Ketika status-status kita menjadi ’senjata makan tuan’, siapa yang sepatutnya disalahkan?
Contoh 1: si A menulis di jejaring sosial tentang keluhannya kepada salah satu anggota keluarganya (si B). Padahal, beberapa anggota keluarganya (termasuk si B) bisa membaca apa yang ditulisnya.
Contoh 2: si A menulis di jejaring sosial tentang keluhannya kepada salah satu anggota keluarganya (si B), karena merasa ‘aman’, tak ada satupun anggota keluarganya yang bisa membaca apa yang ditulisnya. Tapi ternyata, ada pihak ketiga (si C) yang sedang membuka jejaring sosial via gadgetnya, dan tiba-tiba gadgetnya sedang dipinjam oleh temannya (si B).
Contoh 3: si A menulis di jejaring sosial tentang keluhannya kepada salah satu anggota keluarganya tanpa menyebut nama, karena merasa ‘aman’, tak ada satupun anggota keluarganya yang bisa membaca apa yang ditulisnya. Tapi ternyata, ada pihak ketiga (si C) yang sedang membuka jejaring sosial via gadgetnya, dan ‘membahasnya’ dengan si B yang tanpa disadari ternyata sedang bermasalah dengan si A, sehingga akhirnya terjadilah percakapan antara si B dan si C tentang kelakuan sehari-hari si A.

Menurut kalian, siapa yang salah? Bagi saya pribadi, ada 3 kemungkinan ‘tertuduh’ disini.
1. Tertuduh tunggal, yaitu si A. Kenapa? Tidak ada asap jika tidak ada api. Hal-hal krusial seperti itu menurut saya tidak layak dipublikasikan di jejaring sosial. Malah mencoreng nama baik diri sendiri.
2. Si A dan si B. Kenapa? Karena kedua pihak sama-sama emosi dan tidak mencari jalan tengah, tapi justru berjibaku dengan keegoisan masing-masing.
3. Si A dan si C. Kenapa? Lagi-lagi, tidak ada asap jika tidak ada api. Tapi, api akan membesar, dan menimbulkan asap yang lebih besar lagi jika si C ikut campur.

Dari ke-3 kemungkinan tersebut, si A tetaplah bersalah. Jadi, jangan marah ketika ada pihak lain yang justru semakin membencinya, dan bahkan ‘membalas’ menceritakan keburukan-keburukan lain yang ada di dirinya.

Eksis di jejaring sosial? Anda harus tahu resikonya! Jika berbicara netika, sudahkan Anda memiliki netika ketika menulis status-status yang ‘menjatuhkan’ orang lain (apalagi keluarga)? Semua berawal dari Anda, sang penulis status.

Good luck, semoga timeline jejaring sosial saya ‘adem ayem’ pagi ini, sehingga energi positif menghampiri saya, bukan malah ikut-ikutan mengumpat ^^

Setelah vonis kolesistitis khronis dari dokter, akhirnya aku menjalani operasi. Tentunya setelah melalui pemikiran, diskusi internal sama suami, info artikel, dan saran beberapa teman.

Operasi ini menggunakan metode bedah laparaskopi, bukan bedah konvensional. Jadi, nantinya hanya akan ada 3 bekas luka jahitan yang berukuran kecil. Kamera yang dimasukkann ke dalam perut akan bertugas menjadi ‘mata-mata’ dokter bedah. Sementara sayatan kecil digunakan untuk memasukkan alat-alat yang dibutuhkan untuk proses pengangkatan kantung empedu.

Operasi direncanakan hari Rabu, 16 November 2011 pk. 13.00 WITA. Maka, suster menyuruhku untuk puasa makan+minum sejak pk 06.00 WITA. Celakanya, perut ini dalam kondisi ‘full tank’ alias belum pup selama masuk RS. Setelah lapor ke suster, ternyata lavarmen alias ‘cuci perut’ tidak diperlukan kali ini.

Pk 10.00 WITA aku mulai menjalani serangkaian tes. Yang pertama adalah foto thorax di ruang radiologi, yang kedua adalah tes rekam jantung alias EKG, dan terakhir adalah tes alergi obat. Untuk tes darah dan segala macamnya sudah dilakukan sehari sebelumnya.

Pk 12.00 aku sudah bersiap di ruang persiapan. Deg-degan itu pasti. Kali ini aku disini bukan untuk proses persalinan, tapi untuk ‘mengenyahkan’ penyakit yang telah menjangkitiku bertahun-tahun (dan baru kurasakan 2 bulan terakhir ini). Setelah tim dokter berkumpul, aku mulai digiring memasuki ruang operasi yang bernuansa hijau itu. Dingin. Tegang. Setelah semua siap, dokter anastesi mulai menginjeksiku dengan obat bius. Bius total. Pelan tapi pasti, kepala terasa berat, hingga akhirnya aku tertidur. Yang kuingat hanyalah omongan dokter, “ikuti saja. Rasa kantuknya jangan dilawan”.
Tiba-tiba terdengar suara memanggilku, “Bu.. Bu.. Bu, bangun. Bangun, bu, bangun”. Aku membuka mata, sedikit pusing, dan ternyata sudah berada di ruang pemulihan. Operasi berjalan lancar, aku hanya perlu diobservasi sejenak. Jika tak terjadi hal-hal diluar dugaan, maka aku bisa langsung kembali ke kamar, tak perlu ke ICU.
Aku baik-baik saja, dan boleh kembali ke kamar. Sakit? Hmm ya. Duduk? Belum boleh. Pipis? Ya dibantu pispot. Setelah 2 hari dimandikan suster, akhirnya aku boleh belajar duduk, berdiri, berjalan dan pipis sendiri ke kamar mandi. Pusing, puyeng, pening, jalan terhuyung2, ditambah lagi sedikit perih pasca operasi. Kata dokter, itu efek antibiotiknya. Akhirnya antibiotik via selang infus dihentikan, dan rasa pusing menghilang perlahan.
So, here I am. I keep alive without a gall-bladder, and I’m healthy. No more pain, I hope. Tapi punya kenang-kenangan 2 bekas jahitan sepanjang 1 cm di perut atas sebelah kanan. (Yang 1 lagi via pusar, jadi tak ada 3 bekas jahitan, melainkan 2)

Postingan sebelumnya
Setelah mengurus ini itu yang cukup ribet (jadi ribet mungkin gara-gara aku menggunakan asuransi), akhirnya aku mendapat kamar. Royal Queen/VIP C, seharga 450rb/hari. Kamar ini lebih mahal daripada kamar yang aku dapat ketika melahirkan baby DJ, tapi kenapa lebih sempit? Oh well… Ada ruang tamunya.
Oh ya, sebelum pindah ke kamar, suster sudah mengambil sampel darahku dan memasang infus. Sejatinya darah itu digunakan untuk tes bakteri (lupa namanya), dan tes golongan darah (atas permintaan sendiri). Katanya besok akan keluar hasilnya. Sorenya datang petugas untuk mengambil sampel darah (lagi), karena dokter menyarankan tes darah lengkap.

Read the rest of this entry »

Sebulan setelah melahirkan baby DJ a.k.a Daniel Joseph, aku merasakan nyeri hebat di ulu hati. Sebulan ini aku selalu begadang setiap hari, mencuri waktu tidur ketika baby DJ sedang terlelap. Otomatis jadwal makanku ikut kacau. Bisa makan siang saja rasanya beruntung dan luar biasa. Maka tak heran jika hari itu aku terserang maag -yang menurutku tak seperti biasanya-.

Read the rest of this entry »

Wah, lama juga aku meninggalkan blog ini. Hutang postingan juga masih banyak, ya? Ini semua dikarenakan kesibukan yang luar biasa sebagai status baru, yaitu IBU.

Read the rest of this entry »

Tensi: 130/90 (3 minggu yang lalu sempet naik 140/90)

BB: 52,9 kg

BB Janin: 255 gr

Ga ada yang istimewa sih di kontrol kali ini, soalnya jenis kelamin si kecil belum bisa diliat. Oh iya, minggu ini aku suntik Tetanus. Ntar bulan depan katanya suntik lagi. Katanya sih TT-1 dan TT-2 ini berfungsi untuk mencegah terjadinya infeksi tetanus, karenaaaaa….. Penyakit ini bisa ditularkan ke janin pada masa kehamilan, yaitu penyakit infeksi tetanus neonatorum (tetanus pada bayi baru lahir) dan bisa berakibat fatal. Jadi sodara-sodara sekalian, suntik TT itu sakiiiiit :( Alhasil deh sampe rumah langsung ngilu2 tangan kiriku :( besoknya makin parah… duh duh duh, demi si kecil.

Pas di USG, si kecil ini lincah banget. Gerak-gerak mulu sampe obgynnya senyum2. Kata dia, “ini aktif banget anaknya… Sampe susah saya mo liat kelaminnya. Tapi keliatan sih ada ‘monas’nya… Cuma ini masih belum bisa dipastiin cewe/cowo. Soalnya kemungkinan cewe ato cowonya masi 50:50″. Oh, oke dok… Ga masyalah mah, besok kita coba lagi ya, nak!

Di minggu-minggu ini aku uda mulai ngerasain gelembung-gelembung kecil di perutku. Kata orang sih itu gerak janin. Tapi kan ini pertama kalinya aku hamil yaaaa, jadi ga tau deh beneran/ga. Soalnya dokternya bilang “belum.. belum.. Ntar bulan depan baru kerasa”.

Sip deh! Sampe ketemu bulan depan ya, nak….. Nanti kalo di USG jangan malu-malu kucing ya…

**ini postingan pregnancy nya emang kejar tayang, soalnya kemaren-kemaren males nulis sih…**

Sampai di minggu ke-14 ini, aku masih aja ngerasain mual muntah hebring. Mo makan, takut hoek… Tapi kalo ga makan, makin hoek. Malah ga enak banget hoek nya, soalnya kan perut lagi kosong, jadi yang keluar tinggal cairan asem-asemnya doank. Selama ini, kebiasaan tidur dari pagi sampe sore tetep berlanjut, sampe-sampe si hubby protes dooooonggg. Dia lagi kerja banting tulang, sementara aku asik bobo. Uh, padahal kan bukan keasikan bobo melainkan takut hoek.

Read the rest of this entry »

Akhirnya aku bisa ngerasain yang namanya morning sickness. Di minggu ke-7 ini, aku ngalamin mual muntah sepanjang pagi ampe sore. Rasanya pengen ngeluh, nangis, dan pengen cepet-cepet lewat 9 bulan. Untungnya, beberapa temen, artikel dan dokter ngeyakinin kalo mual dan muntah ini pertanda kalo janin kita sehat-sehat aja dan nempel kuat di dinding rahim. Oke, aku siap ngejalanin mual muntah ini kalo emang gitu jalannya ce i leh… Tapi kenapa ya, masi ada beberapa temen yang ga perlu ngalamin mual muntah separah aku? Oh… Dunia ini sungguh tak adil haha…

Read the rest of this entry »