Seringkali kita membaca timeline di Facebook, Twitter, Plurk, atau bahkan postingan blog yang isinya tidak sedap dibaca. Misalnya, pertengkaran dengan pacar/suami/istri, amarah, protes terhadap ortu/mertua/menantu bahkan para menteri/presiden, atau kasus sepele seperti keluhan suatu produk tertentu. Pada beberapa kasus, keluhan tersebut berguna untuk peningkatan kualitas produk, tapi tidak menutup kemungkinan justru malah membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Misalnya, kita mengeluhkan sinyal/layanan sebuah provider, buruknya kualitas suatu produk makanan, atau buruknya pelayanan di sebuah rumah makan. Hal ini bisa menjadi masukan untuk (calon/)pelanggan maupun kepada instansi yang terkait. Sebuah judgement yang adil, adalah dengan menyertakan link instansi terkait, agar terlihat bahwa keluhan kita bisa dipertanggungjawabkan.
Tapi sayangnya, ada sebagian dari kita yang seluruh timelinenya dipenuhi dengan keluhan dan bahkan umpatan. Contohnya di timeline plurk, twitter maupun status Facebook, ada beberapa teman yang selalu mengeluh, protes, dan mengumpat. Sasarannya tentulah seseorang yang menurutnya menyebalkan/mengesalkan. Misalnya, mengeluhkan sikap pacar yang kurang romantis, atau malah berantem di jejaring sosial. Yang lebih krusial lagi adalah ketika seseorang memblow-up masalah internal keluarganya. Berantem ama suami, berantem ama mama/papa, berantem ama mertua/menantu, yang selalu disertai dengan sindiran, umpatan, atau makian.
Tahukah kalian, bahwa jejaring sosial itu memiliki resiko tinggi? Sekalipun tingkat privasinya sudah maksimal, tentu kemungkinan tersebar luas masih banyak. Koleksi foto pribadi Mark Zuckerberg dan pacarnya aja bisa tersebar luas, apalagi kita yang hanya pengguna ecek-ecek. Twitter yang sudah privatepun masih bisa di RT oleh follower kita (ada beberapa aplikasi yang masih bolong urusan ini).
Trus, gimana kalo keluhan/umpatan kita itu sampai terbaca oleh anggota keluarga yang lain? Apa kita sebagai pemilik status harus merasa bangga karena mampu ‘menikam’? Sebagai pengguna jejaring sosial, tentulah kita harus mengerti resiko-resiko yang ada. Ketika status-status kita menjadi ’senjata makan tuan’, siapa yang sepatutnya disalahkan?
Contoh 1: si A menulis di jejaring sosial tentang keluhannya kepada salah satu anggota keluarganya (si B). Padahal, beberapa anggota keluarganya (termasuk si B) bisa membaca apa yang ditulisnya.
Contoh 2: si A menulis di jejaring sosial tentang keluhannya kepada salah satu anggota keluarganya (si B), karena merasa ‘aman’, tak ada satupun anggota keluarganya yang bisa membaca apa yang ditulisnya. Tapi ternyata, ada pihak ketiga (si C) yang sedang membuka jejaring sosial via gadgetnya, dan tiba-tiba gadgetnya sedang dipinjam oleh temannya (si B).
Contoh 3: si A menulis di jejaring sosial tentang keluhannya kepada salah satu anggota keluarganya tanpa menyebut nama, karena merasa ‘aman’, tak ada satupun anggota keluarganya yang bisa membaca apa yang ditulisnya. Tapi ternyata, ada pihak ketiga (si C) yang sedang membuka jejaring sosial via gadgetnya, dan ‘membahasnya’ dengan si B yang tanpa disadari ternyata sedang bermasalah dengan si A, sehingga akhirnya terjadilah percakapan antara si B dan si C tentang kelakuan sehari-hari si A.
Menurut kalian, siapa yang salah? Bagi saya pribadi, ada 3 kemungkinan ‘tertuduh’ disini.
1. Tertuduh tunggal, yaitu si A. Kenapa? Tidak ada asap jika tidak ada api. Hal-hal krusial seperti itu menurut saya tidak layak dipublikasikan di jejaring sosial. Malah mencoreng nama baik diri sendiri.
2. Si A dan si B. Kenapa? Karena kedua pihak sama-sama emosi dan tidak mencari jalan tengah, tapi justru berjibaku dengan keegoisan masing-masing.
3. Si A dan si C. Kenapa? Lagi-lagi, tidak ada asap jika tidak ada api. Tapi, api akan membesar, dan menimbulkan asap yang lebih besar lagi jika si C ikut campur.
Dari ke-3 kemungkinan tersebut, si A tetaplah bersalah. Jadi, jangan marah ketika ada pihak lain yang justru semakin membencinya, dan bahkan ‘membalas’ menceritakan keburukan-keburukan lain yang ada di dirinya.
Eksis di jejaring sosial? Anda harus tahu resikonya! Jika berbicara netika, sudahkan Anda memiliki netika ketika menulis status-status yang ‘menjatuhkan’ orang lain (apalagi keluarga)? Semua berawal dari Anda, sang penulis status.
Good luck, semoga timeline jejaring sosial saya ‘adem ayem’ pagi ini, sehingga energi positif menghampiri saya, bukan malah ikut-ikutan mengumpat ^^